Minggu, 06 Mei 2018

MULTIMEDIA PEMBELAJARAN DALAM ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Sejarah revolusi industri dimulai dari industri 1.0, 2.0, 3.0, hingga industri 4.0. Fase industri merupakan real change dari perubahan yang ada. Industri 1.0 ditandai dengan mekanisasi produksi untuk menunjang efektifitas dan efisiensi aktivitas manusia, industri 2.0 dicirikan oleh produksi massal dan standarisasi mutu, industri 3.0 ditandai dengan penyesuaian massal dan fleksibilitas manufaktur berbasis otomasi dan robot. Industri 4.0 selanjutnya hadir menggantikan industri 3.0 yang ditandai dengan cyber fisik dan kolaborasi manufaktur (Hermann et al, 2015; Irianto, 2017). Istilah industri 4.0 berasal dari sebuah proyek yang diprakarsai oleh pemerintah Jerman untuk mempromosikan komputerisasi manufaktur.
peranan pendidikan tinggi dalam era revolusi industri 4.0.“Ini adalah arus revolusi yang menggabungkan teknologi fisik, digital dan biologis yang berdampak pada semua disiplin ilmu
Lee et al (2013) menjelaskan, industri 4.0 ditandai dengan peningkatan digitalisasi manufaktur yang didorong oleh empat faktor: 1) peningkatan volume data, kekuatan komputasi, dan konektivitas; 2) munculnya analisis, kemampuan, dan kecerdasan bisnis; 3) terjadinya bentuk interaksi baru antara manusia dengan mesin; dan 4) perbaikan instruksi transfer digital ke dunia fisik, seperti robotika dan 3D printing.
Hermann et al (2016) menambahkan, ada empat desain prinsip industri 4.0. Pertama, interkoneksi (sambungan) yaitu kemampuan mesin, perangkat, sensor, dan orang untuk terhubung dan berkomunikasi satu sama lain melalui Internet of Things (IoT) atau Internet of People (IoP). Prinsip ini membutuhkan kolaborasi, keamanan, dan standar. Kedua, transparansi informasi merupakan kemampuan sistem informasi untuk menciptakan salinan virtual dunia fisik dengan memperkaya model digital dengan data sensor termasuk analisis data dan penyediaan informasi. Ketiga, bantuan teknis yang meliputi; (a) kemampuan sistem bantuan untuk mendukung manusia dengan menggabungkan dan mengevaluasi informasi secara sadar untuk membuat keputusan yang tepat dan memecahkan masalah mendesak dalam waktu singkat; (b) kemampuan sistem untuk mendukung manusia dengan melakukan berbagai tugas yang tidak menyenangkan, terlalu melelahkan, atau tidak aman; (c) meliputi bantuan visual dan fisik. Keempat, keputusan terdesentralisasi yang merupakan kemampuan sistem fisik maya untuk membuat keputusan sendiri dan menjalankan tugas seefektif mungkin.
Industri 4.0 sebagai fase revolusi teknologi mengubah cara beraktifitas manusia dalam skala, ruang lingkup, kompleksitas, dan transformasi dari pengalaman hidup sebelumnya. Manusia bahkan akan hidup dalam ketidakpastian (uncertainty) global, oleh karena itu manusia harus memiliki kemampuan untuk memprediksi masa depan yang berubah sangat cepat. Tiap negara harus merespon perubahan tersebut secara terintegrasi dan komprehensif. Respon tersebut dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan politik global, mulai dari sektor publik, swasta, akademisi, hingga masyarakat sipil sehingga tantangan industri 4.0 dapat dikelola menjadi peluang. Wolter mengidentifikasi tantangan industri 4.0 sebagai berikut;
1.      masalah keamanan teknologi informasi
2.      keandalan dan stabilitas mesin produksi
3.      kurangnya keterampilan yang memadai
4.      keengganan untuk berubah oleh para pemangku kepentingan
5.      hilangnya banyak pekerjaan karena berubah menjadi otomatisasi

Industri 4.0 banyak membawa perubahan dalam kehidupan manusia. Industri 4.0 secara fundamental telah mengubah cara beraktivitas manusia dan memberikan pengaruh yang besar terhadap dunia kerja. Pengaruh positif industri 4.0 berupa efektifitas dan efisiensi sumber daya dan biaya produksi meskipun berdampak pada pengurangan lapangan pekerjaan. Industri 4.0 membutuhkan tenaga kerja yang memiliki keterampilan dalam literasi digital, literasi teknologi, dan literasi manusia. Pendidikan kejuruan harus mampu membekali lulusan dengan ketiga literasi tersebut melalui revitalisasi chronosystem yang meliputi sistem pembelajaran, satuan pendidikan, peserta didik, dan pendidik dan tenaga kependidikan.

Revolusi Industri dari Waktu ke Waktu
Revolusi industry generasi pertama ditandai dengan kemunculan berbagai mesin yang menggantikan tenaga manusia dan hewan. Salah satunya adalah kemunculan mesin uap pada abad awal ke-18. Revolusi generasi pertama ini tercatat dalam sejarah mampu menaikkan perekonomian dunia secara drastis.  Selama dua abad setelah Revolusi Industri, terjadi peningkatan rata-rata pendapatan perkapita negara-negara di dunia menjadi enam kali lipat (Robert E Lucas: 2002).
Pada revolusi industri generasi kedua ditandai dengan kemunculan pembangkit tenaga listrik dan motor pembakaran dalam (combustion chamber). Penemuan ini berimbas pada  kemunculan pesawat telepon, mobil, pesawat terbang, dan lain-lain yang mengubah wajah dunia secara signifikan.
Kemudian, revolusi industri generasi ketiga ditandai dengan kemunculan teknologi digital dan internet, sehingga informasi dan transformasi kebudayaan semakin cepat.
Selanjutnya, pada revolusi industri generasi keempat, ditandai dengan disruptif teknologi (disruptive technology) yang hadir begitu cepat dan mengancam keberadaan perusahaan-perusahaan incumbent. Sejarah telah mencatat bahwa revolusi industry keempat ini telah banyak menelan korban dengan matinya perusahaan-perusahaan raksasa. Revolusi industri generasi keempat ini ditandai dengan kemunculan robot pintar, superkomputer, kendaraan tanpa pengemudi, editing genetik dan perkembangan neuroteknologi yang memungkinkan manusia untuk lebih mengoptimalkan fungsi otaknya. Kondisi tersebut disampaikan oleh Klaus Schwab, Founder dan Executive Chairman of the World Economic Forum dalam bukunya The Fourth Industrial Revolution.
Pada era ini, ukuran perusahaan tidak menjadi jaminan, namun kelincahan perusahaan menjadi kunci keberhasilan meraih prestasi dengan cepat. Kita bisa menyaksikan Uber atau Grab yang mengancam pemain-pemain besar pada industri transportasi di seluruh dunia. Di level local, kita juga bisa menyaksikan Gojek, GoCar telah menggeser jasa transportasi tradisional yang selama ini menjadi pemain utama. Selain transportasi, kita juga bisa menyaksikan Airbnb yang menggeser pemain-pemain utama di industri jasa pariwisata. Ini membuktikan bahwa di era revolusi industry generasi keempat ini, yang cepat memangsa yang lambat, bukan lagi yang besar memangsa yang kecil.
Tindakan Antisipatif
Perubahan yang begitu cepat menghendaki adanya antisipasi dalam semua lini kehidupan. Kecepatan teknologi akan menggilas siapa saja yang lamban dan terlambat. Oleh karena itu perlu disiapkan sebuah generasi yang mampu untuk berfikir inovatif, berkompetensi dalam bidang keilmuan masing-masing, optimum dalam menjalani kehidupan, dan mampu terus menerus belajar. Dalam adopsi teknologi baru kedalam Revolusi Industri 4.0 dituntut kemampuan sumber daya manusia  untuk melakukan berbagai terobosan, meningkatkan kemampuan untuk menggunakan informasi dari internet dengan optimum, memperluas akses dan meningkat proteksi cyber security.
Langkah strategis yang dilakukan oleh Menristekdikti, M Nasir adalah mengundang Perguruan Tinggi terbaik di dunia untuk bekerja sama dalam meningkatkan mutu Institusi Pendidikan Tinggi di Indonesia, mempersiapkan oritentasi dan literasi baru dalam bidang pendidikan tinggi, terutama yang sangat terkait dengan persiapan sumber daya manusia. Menurutnya, literasi lama yang mengandalkan baca, tulis dan matematika harus diperkuat dengan mempersiapkan literasi baru dalam bidang pendidikan tinggi. Literasi baru tersebut adalah ‘Data Literation’, ‘Technology Literation’ dan ‘Human Literation’.
Literasi Data adalah kemampuan untuk membaca, menganalisa dan menggunakan informasi dari Big Data dalam dunia digital. Literasi Teknologi adalah kemampuan untuk memahami sistem mekanik dan teknologi dalam dunia kerja, seperti  coding, artifical intellence (AI), dan prinsip-prinsip teknik rekayasa. Sedangkan Literasi Sumber Daya Manusia adalah penguasaan dalam bidang Kemanusiaan, Komunikasi dan Desain oleh semua lulusan Sarjana di Indonesia.
Capaian literasi tersebut tentunya dipengaruhi oleh kualitas pembelajaran dan kualitas dari Dosen maupun Tenaga Pendidik lainnya. Mereka harus menguasai skills dalam kepemimpinan dan kerjasama, kemampuan beradaptasi dengan teknologi baru dan tantangan global, serta mempunyai kemampuan entrepreneurship.
Di Indonesia, perkembangan Revolusi Industri 4.0 telah ditunjukkan dengan berkembangnya sistem online perusahaan-perusahaan dalam memasarkan produk-produknya. Untuk itu, tenaga kerja harus menguasai teknologi digital. Inilah yang menjadi alasan bahwa perlu dimulai reorientasi program pendidikan tinggi, sehingga dapat menghasilkan sarjana yang berkualitas, yaitu competency-based education (pendidikan berbasis kompetensi), the internet of things (penggunaan internet dalam sistem pengajaran), dan virtual/augmented reality (pengembangan sistem pendidikan berbasis virtual, serta artificial intelligence (pengembangan platform pendidikan online, sehingga mahasiswa dapat memperoleh ilmu pengetahuan dan teknologi yang dibutuhkan melalui online). Inilah alasan Menristekdikti Nasir menyambut baik institusi pendidikan tinggi asing yang hendak bekerja sama dalam pembangunan cyber universities di Indonesia, serta mengembangkan sistem pengajaran jarak jauh (online learning system).

PERMASALAHAN:
1.      pada revolusi industri 4.0 mengakibatkan hilangnya banyak pekerjaan karena berubah menjadi otomatisasi atau penggantian tenaga manusia dengan tenaga mesin . untuk itu bagaimana menanggulangi masalah yang diakibatkan oleh Industry 4.0 ini?

2.      Apa saja kelebihan dan kekurangan revolusi industri 4.0?

3.      Bagaimana kita mempersiapkan diri untuk menghadapi era revolusi industri 4.0 ini?


7 komentar:

  1. saya akan menjawab pertanyaan no 3:
    Revolusi industri 4.0 adalah era teknologi digital, semua serba digital. Apabila kita tidak bergerak ke era digital maka bangsa kita akan tertinggal. Karena itu, pengelola pendidikan tinggi harus mampu mengelola pesatnya kemajuan dunia digital yang mengalami perubahan begitu cepat. erjadinya perubahan dunia begitu cepat, kata Hanif, lingkungan perguruan tinggi mau tidak mau harus responsif terhadap perubahan itu. Perguruan tinggi harus mampu meningkatkan kemampuan daya saing dengan menghasilkan kualitas lulusan yang mampu menangkap peluang, menganalisis risiko secara jitu, dan keberanian untuk selalu bangkit ketika menghadapi kegagalan.

    BalasHapus
  2. Baiklah, saya ingin menangggapi permasalahan anda yang ketiga. Menurut pendapat saya sebagai mahasiswa harus menjadi live long leaner atau menjadi pembelajar yang belajar seumur hidup. Artinya mahasiswa harus terampil, terus belajar dengan hal-hal baru, prinsip live long leaner diyakini mampu menjawab perkembangan zaman dan teknologi digital yang terus berkembang pesat. Selain itu, keterampilan dan inovasi akan bisa mencetak lulusan perguruan tinggi yang handal dan bisa bersaing secara nasional maupun internasional.

    BalasHapus
  3. baiklah saya akan menanggap permaslahan no 2 dimana revolusi industri era 4.0 terdapat keuntungan yang sangat-sangat diidamkan oleh para pekerja. Terlebih bagi mereka yang selalu rindu akan suasana rumah. mereka bisa terhubung dengan yang namanya internet. Orang-orang yang bekerja di rumah, cukup berkoordinasi via telpon maupun via email dengan atasan mereka atau dengan perusahaan yang memberikan mereka pekerjaan. Setelah itu, mereka bisa mengerjakan pekerjaan yang diberikan tersebut dari rumahatau dari mana pun yang memiliki akses internet tanpa harus datang ke kantor.
    Saat ini cukup banyak para pekerja kreatif yang bekerja di perusahaan-perusahaan digital menyelesaikan pekerjaan mereka dari rumah. Dalam dunia digital, hasil pekerjaan adalah hal penting dibandingkan dengan kehadiran di kantor. Para pekerja tak dituntut harus selalu datang ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaan mereka. Cukup bekerja dari rumah atau co-working space, mereka bisa mengerjakan berbagai jenis pekerjaan yang dibebankan kepada mereka semua. Sehingga sangat mudah dilakukan.
    evolusi industri 4.0 memang membawa beberapa akibat negatif, seperti media sosial pembawa berita bohong, juga pergeseran model-model bisnis yang mengakibatkan beberapa jenis pekerjaan tidak lagi dibutuhkan.

    BalasHapus
  4. saya ingin mencoba menjawab nomor 3, cara kita menghadapi revolusi industri 4.0 adalah dengan mengasah softskill kita karena yang diutamakan adalah kinerja kita pada saat kita terjun kedua kerja. Setidaknya softskill kita baik dan tidak gaptek.

    BalasHapus
  5. Menanggapi permasalahan no. 1 Menjawab tantangan industri 4.0, Bukit (2014) menjelaskan
    bahwa pendidikan kejuruan (Vocational Education) sebagai pendidikan
    yang berbeda dari jenis pendidikan lainnya harus memiliki karakteristik
    sebagai berikut; 1) berorientasi pada kinerja individu dalam dunia kerja;
    2) justifikasi khusus pada kebutuhan nyata di lapangan; 3) fokus
    kurikulum pada aspek-aspek psikomotorik, afektif, dan kognitif; 4) tolok
    ukur keberhasilan tidak hanya terbatas di sekolah; 5) kepekaan terhadap
    perkembangan dunia kerja; 6) memerlukan sarana dan prasarana yang
    memadai; dan 7) adanya dukungan masyarakat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya sependapat dengan hudia dan disinia saya akan menambahkan sedikit dimana ndonesia tak bisa lagi menghindari tantangan arus globalisasi yang disertai dengan melesatnya perkembangan teknologi. Kini, dunia memasuki babak baru revolusi industri generasi keempat (4.0). Menghadapi itu, tentu Indonesia harus mampu mencetak lulusan-lulusan berkualitas yang mampu menghadapi tantangan tersebut.

      "Sekarang kita masuk di era revolusi industri 4.0, inilah yang sedang kita hadapi. Untuk menyikapinya butuh kebijakan yang berbeda dari masa-masa sebelumnya," kata Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir saat memberi kuliah umum “Kebijakan Pendidikan Tinggi untuk Menghadapi Era Revolusi Industri 4.0” di Universitas Gunadarma Bekasi, Bekasi Selatan, Selasa (6/3/2018).

      Menurut Nasir, saat ini dunia pendidikan global telah melirik revolusi industri 4.0 sebagai dasar pengembangan sumber daya manusianya (SDM) karena tidak secara SDM yang memberi dampak pada orientasi pembangunan negara ke depannya.

      Hapus
  6. Menurut saya, untuk mengatasi permasalahan pertama manusia harus terus meningkatkan serta mengembangkan softskill dan hardskill, karena bukan tidak mungkin jika tidak bekerja keras makan semua akan dikerjakan oleh mesin yanh semakin canggih

    BalasHapus