Pengertian Teori Pemrosesan
informasi
Teori
pemrosesan informasi adalah teori kognitif tentang belajar yang menjelaskan
pemrosesan, penyimpanan, dan pemanggilan kembali pengetahuan dari otak. Teori
ini menjelaskan bagaimana seseorang memperoleh sejumlah informasi dan dapat
diingat dalam waktu yang cukup lama. Oleh karena itu perlu menerapkan suatu
strategi belajar tertentu yang dapat memudahkan semua informasi diproses di
dalam otak melalui beberapa indera.
Teori
pembelajaran pemrosesan informasi adalah bagian dari teori belajar sibernetik.
Secara sederhana pengertian belajar menurut teori belajar sibernetik adalah
pengolahan informasi. Dalam teori ini, seperti psikologi kognitif mengkaji
proses belajar penting dari hasil belajar namun yang lebih penting dari kajian
proses belajar itu sendiri adalah sistem informasi, sistem informasi inilah
yang pada akhirnya akan menentukan proses belajar.
Model
belajar pemrosesan informasi ini sering pula disebut model kognitif information
processing, karena dalam proses belajar ini tersedia tiga taraf struktural sistem
informasi, yaitu:
1.
Sensory atau intake register: informasi masuk ke
sistem melalui sensory register, tetapi hanya disimpan untuk periode waktu
terbatas. Agar tetap dalam sistem, informasi masuk ke working memory yang
digabungkan dengan informasi di long-term memory.
2.
Working memory: pengerjaan atau operasi informasi
berlangsung di working memory, di sini berlangsung berpikir yang sadar.
Kelemahan working memory sangat terbatas kapasitas isinya dan memperhatikan
sejumlah kecil informasi secara serempak.
3.
Long-term memory, yang secara potensial tidak terbatas
kapasitas isinya sehingga mampu menampung seluruh informasi yang sudah dimiliki
siswa. Kelemahannya adalah betapa sulit mengakses informasi yang tersimpan di
dalamnya.
Teori Pemrosesan Informasi dalam Pembelajaran menurut Robert Mills Gagne
Teori
belajar oleh Gagne (1988) disebut dengan “Information Processing Learning Theory”.
Teori ini merupakan gambaran atau model dari kegiatan di dalam otak manusia di
saat memroses suatu informasi. Karenanya teori belajar tadi disebut juga Information-Processing
Model oleh Lefrancois atau Model Pemrosesan Informasi. Menurut Gagne bahwa
dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi, untuk kemudian diolah
sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar.
Model
proses belajar yang dikembangkan oleh Gagne didasarkan pada teori pemrosesan
informasi, yaitu sebagai berikut :
1.
Rangsangan yang diterima panca indera akan disalurkan
ke pusat syaraf dan diproses sebagai informasi.
2.
Informasi dipilih secara selektif, ada yang dibuang,
ada yang disimpan dalam memori jangka pendek, dan ada yang disimpan dalam
memori jangka panjang.
3.
Memori-memori ini tercampur dengan memori yang telah
ada sebelumnya, dan dapat diungkap kembali setelah dilakukan pengolahan.
Multimedia telah banyak digunakan dalam pembelajaran. Menurut Istiyanto
(2011), multimedia adalah media yang menggabungkan dua unsur atau lebih yang
terdiri dari teks,grafik, gambar, foto, audio, dan animasi secara terintegrasi.
Menurut Mayer (2009:3), multimedia didefinisikan sebagai presentasi materi
dengan menggunakan kata-kata (verbal form) sekaligus gambar-gambar.
Pembelajaran berbantuan multimedia dapat diartikan sebagai aplikasi
multimedia yang digunakan dalam proses pembelajaran, untuk menyalurkan pesan
(pengetahuan, keterampilan dan sikap) serta dapat merangsang pikiran, perasaan,
perhatian, dan kemauan belajar sehingga terjadi proses belajar yang sesuai
tujuan dan terkendali (Istiyanto, 2011)
Dalam
pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi internal
dan kondisi-kondisi eksternal individu. Kondisi internal yaitu keadaan dalam
diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang
terjadi dalam individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan
yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran. Asumsinya adalah pembelajaran
merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan. Perkembangan merupakan
hasil komulatif dari pembelajaran. Dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan
informasi yang kemudian diolah sehingga menghasilkan output dalam bentuk hasil
belajar. Pembelajaran merupakan keluaran dari pemrosesan informasi yang berupa kecakapan
manusia (human capitalities) yang terdiri dari: informasi verbal, kecakapan
intelektual, strategi kognitif, sikap, kecakapan motorik.
Model pembelajaran
pemrosesan informasi adalah model pembelajaran yang
menitikberatkan pada aktivitas yang terkait dengan kegiatan proses atau pengolahan informasi untuk meningkatkan kapabilitas siswa melalui proses pembelajaran. Model ini lebih memfokuskan pada fungsi kognitif peserta didik. Model ini berdasarkan teori belajar kognitif sehingga model tersebut berorientasi pada kemampaun siswa memproses informasi dan
sistem-sistem yang dapat
memperbaiki kemampuan tersebut.
Dalam
bukunya Robert M. Gagne disebutkan bahwa : A very special kind of intellectual
skill, of particular in probelem solving, is called a cognitive
strategy. In term of modern learning theory, a cognitive strategy is
a control process. An internal process by means of which thinking. Gagne
mengemukakan delapan fase dalam satu tindakan belajar. Fase-fase itu merupakan
kejadian-kejadian eksternal yang dapat distrukturkan oleh siswa atau guru.
Setiap fase dipasangkan dengan suatu proses yang terjadi dalam pikiran siswa.
Kejadian-kejadian belajar itu akan diuraikan dibawah ini, yaitu:
a. Fase
motivasi (Motivation phase)
Fase
motivasi adalah pemberian harapan kepada peserta didik bahwa dengan belajar
mereka akan mendapat “hadiah”. Hadiah disini adalah bahwa pelajaran yang
dipelajari dapat memenuhi keingintahuan mereka tentang suatu pokok bahasan.
Pemberian motivasi memungkinkan peserta didik berusaha mencapai tujuan yang
telah ditetapkan. Pemberian motivasi ini dapat dilakukan secara
instrinsik/ekstrinsik. Motivasi instrinsik dapat membangkitkan semangat belajar
siswa. Misalnya seorang siswa belajar karena ingin mendapatkan pengetahuan,
sikap, dan keterampilan, ia akan melakukan aktivitas belajar dengan tekun dan
sungguh-sungguh tanpa harus ditugaskan dan didorong oleh guru. Motivasi ekstrinsik
dapat mempengaruhi/membangkitkan semangat belajar yang timbul dari luar diri
siswa. Misalnya pemberian motivasi, pengajar menarik perhatian siswa dengan
menceritakan kegunaan materi ajar yang dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari.
Jika pengajar mampu menarik perhatian siswa, maka hal itu merupakan pertanda
bahwa dalam diri siswa timbul motivasi atau rasa ingin tahu untuk mempelajari
suatu materi pelajaran yang disajikan oleh pengajar.
b b. Fase
pengenalan (Apprehending phase)
Siswa
harus memberikan perhatian pada bagian-bagian yang esensial suatu kejadian
instruksional jika belajar akan terjadi. Misalnya siswa memperhatikan
aspek-aspek yang relevan tentang apa yang dikatakan guru atau tentang
gagasan-gagasan utama dalam buku. Guru dapat memfokuskan perhatian terhadap
informasi yang penting dengan berkata, misalnya: “Dengarkan kedua kata yang Ibu
katakan, apakah ada perbedaanya?” Bahan-bahan tertulis dapat juga diperlukan
demikian dengan menggarisbawahi kata atau kalimat tertentu atau memberikan
garis-garis besar untuk setiap bab. Tahap berikutnya setelah perhatian adalah
keluaran dari “daftar sensori” Kegiatan mental (perhatian) yang diadopsi oleh
peserta didik, menentukan aspek stimulus eksternal yang diterima peserta didik.
Ini berarti serangkaian stimulus-stimulus yang diterima peserta didik,
merupakan tanggapan yang selektif. Supaya terjadinya tanggapan selektif itu
dimungkinkan, bentuk stimulus eksternal harus berbeda-beda. Dengan stimulus
eksternal yang berbeda-beda itu peserta didik memperhatikan adanya unsur-unsur
yang penting dan relevan sehingga sangat membantu kegaiatan belajar selanjutnya.
c. Fase
perolehan (Acquisition phase)
Bila
siswa memperhatikan informasi yang relevan, ia telah siap menerima pelajaran.
Informasi yang disajikan tidak langsung disimpan dalam memori. Informasi itu
diubah menjadi bentuk yang bermakna yang dihubungkan dengan informasi yang
telah ada dalam memori siswa. Suatu informasi dapat diubah oleh siswa menjadi
bermakna sehingga dapat dihubungkan dengan informasi yang telah ada dalam
ingatannya. Informasi yang tertinggal sementara dalam “ingatan jangka pendek”
akan mengalami transformasi ke dalam bentuk yang sudah siap disimpan. Proses
ini disebut pengkodean.
d d. Fase
retensi (Retention phase)
Informasi
baru yang diperoleh harus dipindahkan dari memori jangka pendek (short term
memory) ke memori jangka panjang (long term memory). Ini dapat terjadi melalui
pengulangan kembali, praktik, elaborasi, atau lain-lainnya.
e.
Fase pemanggilan (Recall phase)
Fase
ini merupakan kemampuan mengungkap/memanggil keluar informasi yang telah
dimiliki dan disimpan dalam ingatan. Proses menggali ingatan dapat dipengaruhi
oleh stimulus eksternal. Dalam proses ini, mungkin siswa akan kehilangan kontak
(hubungan) dengan informasi yang ada dalam “ingatan jangka panjang” (long term
memory). Kalau keadaannya sudah demikian, maka pengajar harus memberikan
stimulus eksternal atau memberikan teknik khusus untuk dapat mengeluarkan
informasi yang tersimpan dalam ingatan. Misalnya, memberikan informasi yang
relevan kemudian meminta siswa untuk mencari kaitannya.
f.
Fase generalisasi (Generalization phase)
Biasanya
informasi itu kurang nilainya jika tidak dapat diterapkan di luar konteks
dimana informasi itu dipelajari. Jadi, generalisasi atau transfer informasi
pada situasi-situasi baru merupakan fase kritis dalam belajar. Transfer ini
dapat ditolong dengan menyuruh siswa menggunakan informasi yang telah didapat
ke dalam situasi yang berbeda dengan situasi waktu informasi itu didapat. Jadi
dalam fase generalisasi ini peserta didik dapat belajar untuk memanfaatkan
informasi yang telah didapat ke dalam permasalahan yang relevan dalam kehidupan
sehari-hari.
g.
Fase penampilan (Performance phase)
Para
siswa harus memperlihatkan bahwa mereka telah belajar sesuatu melalui
penampilan yang tampak. Misalnya setelah mempelajari operasi bentuk aljabar,
para siswa dapat menjumlahkan atau mengurangkan suku-suku sejenis dalam
aljabar.
h.
Fase umpan balik (Feedback phase)
Para
siswa harus memperoleh umpan balik tentang penampilan mereka yang menunjukkan
apakah mereka telah atau belum mengerti tentang apa yang diajarkan. Umpan balik
ini dapat memberikan reinforcement (penguatan) pada mereka untuk penampilan
yang berhasil.
Gagne
membuat beberapa rumusan untuk menghubungkan keterkaitan antara faktor internal
dan eksternal dalam pembelajaran dalam rangka memaksimalkan tercapainya tujuan
pembelajaran, yaitu:
a. Pembelajaran yang dilakukan dikondisikan
untuk menimbulkan minat peserta didik, dan dikondisikan agar perhatian peserta
didik terpusat pada pembelajaran sehingga mereka siap untuk menerima pelajaran.
b. Memulai pelajaran dengan menyampaikan tujuan
pembelajaran agar peserta didik mengetahui apa yang diharapkan setelah menerima
pelajaran.
c. Guru harus mengingatkan kembali konsep yang
telah dipelajari sebelumnya.
d. Guru siap untuk menyampaikan materi pelajaran.
e. Dalam pembelajaran guru memberikan bimbingan
atau pedoman kepada siswa untuk belajar.
f. Guru memberikan motivasi untuk memunculkan
respon siswa.
g. Guru memberikan umpan balik atau penguatan
atas respon yang diberikan siswa baik dalam bentuk lisan maupun tulisan.
h. Mengevaluasi hasil belajar
i. Memperkuat retensi dan transfer belajar.
Teori Pemrosesan Informasi dalam Pembelajaran menurut Atkinson
Sebuah
teori memori yang diusulkan oleh Atkinson dan Shiffrin(1968, 1971) yang menekankan
pada interaksi antara penyimpanan sensoris, memori jangka pendek, dan jangka
panjang (LTM). Memori Jangka pendek sebagai komponen dasar kedua dalam sistem
Atkinson dan Shiffrin adalah bersifat terbatas baik dalam kapasitas maupun durasi.
Informasi akan hilang dalam waktu 20-30 detik jika tidak diulang. Kita menggunakan
Memori Jangka Pendek atau Short Term Memory (STM), misalnya saat kita mengingat
nomor telepon yang kita putar. Memori bentuk ini dibatasi baik dalam jumlah
informasi yang dapat ditangkap (kapasitas) maupun lamanya informasi tersebut
dapat bertahan (durasi). Durasi STM yang terbatas diilustrasikan dalam kejadian
dimana kita dengan mudah melupakan nomor telepon jika kita tidak mengulang
secara verbal. Memori jangka panjang memiliki kapasitas yang tidak terbatas dan
dapat menahan informasi dalam jangka waktu yang lebih lama, namun sering kali
memerlukan usaha yang keras agar dapat memasukkan informasi ke memori ini.
Fakta bahwa STM di butuhkan ketika kita menyelesaikan sebagian besar
tugas-tugas kognitif mencerminkan peran penting STM sebagai sebuah memori kerja
(working memory) yang menjaga dan memanipulasi informasi.
Teori
yang diajukan oleh Atkinson san Shiffrin (1968, 1971) menekankan pada interaksi
antara STM dan LTM. Memori jangka penjang memiliki dua manfaat penting: Pertama,
sebagaimana diketahui, kecepatan lupa jauh lebih rendah untuk LTM. Beberapa
psikologi bahkan menyatakan bahwa informasi dalam LTM tidak pernah hilang
meskipun kita kehilangan kemampuan untuk memanggil kembali informasi tersebut;
dan LTM memiliki kapasitas yang tidak terbatas. Meskipun demikian, tidaklah
selalu mudah memasukkan informasi baru ke dalam LTM. Atkinson dan Shiffrin mengajukan
beberapa proses kontrol yang dapat digunakan sebagai usaha untuk mempelajari
informasi baru. Proses kontrol (control proses) adalah strategi yang digunakan
seseorang untuk memfasilitasi perolehan pengetahuan. Strategi tersebut meliputi
strategi akuisisi terhadap:
a. Pengulangan
(rehearsal) merupakan repitisi informasi baik dengan keras maupun lirih secara
terus-menerus hingga informasi tersebut berhasil dipelajari.
b. Pengodean
(coding) berusaha menempatkan informasi agar dapat diingat dalam konteks
informasi tambahan yang mudah diingat, seperti frase atau kalimat mnemonic.
c. Membuat
gambaran (imaging) meliputi menciptakan gambaran visual agar materi lebih mudah
diingat. Strategi ini merupakan trik memori lama bahkan trik ini direkomendasikan
oleh Cicero di Romawi Kuno untik mempelajari daftar yang panjang atau pidato.
Pengulangan
verbal biasanya dianggap sebagai suatu bentuk pembelajaran dengan sistem hafal
(rote learning) karena melibatkan pengulangan informasi secara terus menerus sampai
kita piker sudah berhasil mempelajarinya. Pengulangan verbal berguna ketika
materi yang dipelajari agak abstrak yang sulit dengan menggunakan strategi pengodean
atau membuat gambaran. Tugas yang didesain oleh Atkinson dan Shiffrin (1968) menuntun
pembelajaran materi yang abstrak dan tidak bermakna, sehingga mendorong subjek
untuk menggunakan pengulangan.
PERMASALAHAN:
1 Seperti
yang telah sering dialami para guru, pesan atau keterangan yang disampaikan
seorang guru dapat hilang seluruhnya dari ingatan para siswa jika pesan atau
keterangan tersebut terkategori sebagai ingatan inderawi . Bagaimana caranya
agar informasi atas keterangan seorang guru tidak akan hilang begitu saja dari
ingatan siswa?
2 2. perhatian
para siswa terhadap informasi atau masukan dari para guru akan sangat
menentukan diterima tidaknya suatu informasi yang disampaikan para guru, untuk itu
bagaimana cara menarik perhatian para siswa terhadap bahan yang disajikan?
3 3. Sebagai seorang guru, kira-kira media seperti
apa yang baik digunakan agar informasi
yang diperoleh siswa dapat masuk ke memori jangka panjang?
DAFTAR
PUSTAKA
Nahor Murani Hutapea, Pembelajaran
Matemtika Melalui Penerapan Fase-fase Balajar Gagne, tesis program strata dua,
(Surabaya: Perpustakaan Unesa, 2004), h. 14-17
Rehalat, Aminah. 2014. Model Pembelajaran Pemrosesan Informasi.
Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial, Volume 23, No. 2,
Edisi Desember. Ambon: Unpatti