Sabtu, 28 April 2018

Presentasi Multimedia Pembelajaran kimia Hasil Pengembangan


Guru sebagai pendidik yang profesional harus mampu berperan sebagai komunikator dan fasilitator bagi peserta didik di dalam kelasnya. Sebagai komunikator seorang guru harus mampu menyampaikan pesan-pesan pembelajaran kepada siswa sebagaimana yang dinyatakan oleh Martinis Yamin (2007:7) bahwa mereka berperan sebagai komunikator, mengkomunikasikan materi pelajaran dalam bentuk verbal dan non verbal.
Guru sebagai fasilitator dimaksudkan seorang guru harus mampu menjadi orang yang memfasilitasi atau melayani keperluan peserta didik di dalam kelas untuk mencapai tujuan pembelajaran. Sebagaimana yang disampaikan oleh Martinis Yamin (2007:10), bahwa guru sebagai fasilitator memiliki peran menfasilitasi siswa-siswa untuk belajar secara maksimal dengan menggunakan berbagai strategi, metode, media, dan sumber belajar.
Banyak hambatan yang ditemui oleh seorang guru sehubungan dengan fungsinya sebagai komunikator dan fasilitator tersebut. Salah satu faktor hambatan adalah sulitnya melakukan proses komunikasi antara guru dan siswa dalam proses pembelajaran. Guru kurang mampu menyampaikan pesan pembelajaran kepada siswa. Pembelajaran yang telah dilakukan guru selama ini belum mampu menarik perhatian siswa, sehingga terkesan siswa apatis terhadap materi pelajaran yang disapaikan oleh guru. Akibatnya siswa gagal memahami materi pembelajaran, dan guru mengalami kekecewaan dan ketidak puasan. Hal ini dapat teramati pada saat proses pembelajaran berlangsung, guru telah mengupayakan pembelajaran dengan menggunakan metode-metode yang bervariasi dan juga memanfaatkan media yang ada, tetapi siswa masih kelihatan kurang aktif dan tidak termotivasi. Jumlah siswa yang mengajukan pertanyaan kepada guru atau temannya sangat sedikit. Terkadang dalam satu kali tatap muka tak ada sama sekali siswa yang mengajukan pertanyaan. Hal ini mengakibatnya siswa gagal memahami materi pembelajaran, guru mengalami kekecewaan dan ketidak puasan.
Berdasarkan hal tersebut, adanya hambatan yang ditemukan guru dalam proses komunikasi pembelajaran disebabkan oleh kurang tepat dan menariknya media yang ditampilkan atau digunakan dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu perlu dilakukan pemilihan media yang tepat dan menarik perlu dilakukan agar tercapai transfer ilmu pengetahuan dari guru terhadap siswa optimal dan menyenangkan. Sesuai dengan perkembangan teknologi saat ini maka media yang dapat digunakan adalah multi media.
Adapun multimedia yang saya gunakan disini adalah media berbasis ppt yang dilengkapai dengan teks, animasi, dan gambar.

Permasalahan:
1    1. Apa saja kelebihan dan kelemahan presentasi multimedia interaktif menggunakan media powerpoint menurut anda?

2     2. Apakah menurut anda pembelajaran dengan pserentasi multimedia  dengan power point akan menimbulkan kebosanan.

3       3.  Jika terdapat masalah seperti no. 2 bagaimana kira-kira cara mengatasinya?

   




Minggu, 22 April 2018

Pengembangan E-learning dalam Pembelajaran Kimia


  A.   Pengertian e-learning
E-learning merupakan suatu jenis belajar mengajar yang memungkinkan tersampaikannya bahan ajar ke siswa dengan menggunakan media internet, intranet atau media jaringan komputer lain (Hartley, 2001). E-learning membuat pembelajaran dapat lebih terbuka dan fleksibel. Pembelajaran dapat terjadi kapan saja, dimana saja, dan dengan siapa saja. Salah satu media yang dikembangkan untuk menunjang pembelajaran secara online adalah program LMS (Learning Management System). Menurut Yasar dan Adiguzel (2010), Learning Management System (LMS) adalah suatu pengelolaan pembelajaran yang mempunyai fungsi untuk memberikan sebuah materi belajar, mendukung kolaborasi, menilai kinerja peserta didik, merekam data peserta didik, dan menghasilkan laporan yang berguna untuk memaksimalkan efektifitas dari sebuah pembelajaran. Selain materi ajar, skenario pembelajaran perlu disiapkan dengan matang untuk mengundang keterlibatan peserta didik secara aktif dan konstruktif dalam proses belajar mereka (Hasbullah, 2009).
    B. Ciri-ciri e-learning
E-learning mempunyai ciri-ciri, antara lain (Clark & Mayer 2008: 10): 1) memiliki konten yang relevan dengan tujuan pembelajaran; 2) menggunakan metode instruksional, misalnya penyajian contoh dan latihan untuk meningkatkan pembelajaran; 3) menggunakan elemen-elemen media seperti kata-kata dan gambar-gambar untuk menyampaikan materi pembelajaran; 4) memungkinkan pembelajaran langsung berpusat pada pengajar (synchronous e-learning) atau di desain untuk pembelajaran mandiri (asynchronous e-learning); 5) membangun pemahaman dan keterampilan yang terkait dengan tujuan pembelajaran baik secara perseorangan atau meningkatkan kinerja pembelajaran kelompok
   C.   Prinsip dalam membuat e-learning
Hujair AH. Sanaky (2009: 205) berpendapat bahwa terdapat banyak manfaat dan dampak yang diperoleh dari pembelajaran melalui e-learning apabila diaplikasikan di dalam lembaga pendidikan termasuk juga di perguruan tinggi, yaitu sebagai berikut:
1. Perubahan budaya belajar dan peningkatan mutu pembelajaran peserta didik dan dosen.
2. Perubahan pertemuan pembelajaran yang tidak terfokus pada pertemuan (tatap muka) di kelas dan pertemuan tidak dibatasi oleh ruang dan waktu melalui fasilitas e-learning.
3. Tersedianya materi pembelajaran di media elektronik melalui website e-learning yang mudah diakses dan dikembangkan oleh peserta didik dan mungkin juga masyarakat.
4. Pengayaan materi pembelajaran sesuai dengan kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi.
5. Menciptakan kompetitive positioning dan meningkatkan brand image.
6. Meningkatkan kualitas pembelajaran dan kepuasan peserta didik serta kualitas pelayanan.
7. Interaktivitas peserta didik meningkat, karena tidak ada batasan waktu untuk belajar.
8. Peserta didik menjadi lebih bertanggung jawab akan kesuksesannya (learner oriented).
Beberapa prinsip membuat situs pembelajaran atau website e-learning menurut Munir (2009: 191) antara lain:
1.  Merumuskan tujuan pembelajaran
2.  Mengenalkan materi pembelajaran
3. Memberikan bantuan dan kemudahan bagi pembelajar untuk mempelajari materi pembelajaran; 4. Memberikan bantuan dan kemudahan bagi pembelajar untuk mengerjakan tugas-tugas dengan perintah dan arahan yang jelas
5. Materi pembelajaran yang disampaikan sesuai standar yang berlaku secara umum, serta sesuai dengan tingkat perkembangan pembelajar
6. Materi pembelajaran disampaikan dengan sistematis dan mampu memberikan motivasi belajar, serta pada bagian akhir setiap materi pembelajaran dibuat rangkumannya
7. Materi pembelajaran disampaikan sesuai dengan kenyataan, sehingga mudah dipahami, diserap, dan dipraktekkan langsung oleh pembelajar
8. Metode penjelasannya efektif, jelas, dan mudah dipahami oleh pembelajar dengan disertai ilustrasi, contoh dan demonstrasi
9. Sebagai alat untuk mengetahui keberhasilan pembelajaran, maka dapat dilakukan evaluasi dan meminta umpan balik (feedback) dari pembelajar.

   D.   Metode pengembangan e-learning dalam pembelajaran kimia
Pengembangan bahan ajar berbasis e-learning dengan materi hidrokarbon dan minyak bumi ini didasarkan pada model pengembangan yang direkomendasikan oleh Thiagarajan (1974), yakni 4D-Model yang terdiri dari pembatasan (define), perencanaan (design), pengembangan (develop), dan penyebarluasan (disseminate).
Tahap pendefinisian (define) adalah untuk menentukan dan menegaskan kebutuhan-kebutuhan pembelajaran. Langkah-langkah yang dilakukan dalam tahap ini adalah: (1) analisis ujung depan yang mengarah pada hasil akhir dari pengembangan yakni berupa bahan ajar berbasis e-learning, (2) analisis siswa, langkah ini menetapkan subyek pebelajar dan sasaran belajar siswa yaitu siswa kelas X semester 2 dengan materi pokok senyawa hidrokarbon dan minyak bumi dengan karakter siswa yang telah mengenal internet, dan (3) perumusan indikator hasil belajar yang dirumuskan berdasarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar pada kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). Analisis siswa dibedakan menjadi dua, yaitu: (1) analisis tugas dengan mencari literatur dan sumber belajar tentang hidrokarbon dan minyak bumi dan (2) analisis konsep yang dilakukan dengan mengidentifikasi konsep-konsep utama yang akan dipelajari.
Tahap perencanaan (design) meliputi tiga langkah yaitu: (1) penyusunan tes dengan membuat soal yang bertujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman materi dan keberhasilan siswa dalam memahami materi dalam bahan ajar, (2) pemilihan media untuk mendapatkan media yang tepat sesuai dengan perkembangan era teknologi yang sedang berlangsung, yaitu media internet, dan (3) perancangan awal yang meliputi membaca buku teks yang relevan, menulis bahan ajar, adaptasi bahan ajar, konsultasi secara intensif dengan dosen pembimbing.
Pada tahap pengembangan (develop) langkah- langkah yang dilakukan adalah: (1) konsultasi dengan pembimbing yang bertujuan untuk merancang dan menyusun media dan instrumen yang akan dipakai dalam penelitian, (2) validasi yang merupakan kegiatan untuk mengumpulkan data tentang nilai yang diperoleh dari validator, (3) analisis hasil validasi, hasil validasi dianalisis sesuai dengan penilaian, saran, dan kritik dari validator, (4) revisi bahan ajar berbasis e-learning yang bertujuan untuk menyempurnakan bahan ajar yang akan digunakan, dan (5) uji coba terbatas, tujuan uji coba ini hanya untuk mengetahui kelayakan dari produk pengembangan yakni bahan ajar berbasis e-learning.
Tahap keempat yaitu penyebarluasan (disseminate) merupakan tahap penggunaan bahan ajar yang telah dikembangkan pada skala yang lebih luas. Tahap ini bertujuan untuk menguji efektivitas penggunaan bahan ajar berbasis e-learning hasil pengembangan. Dalam pengembangan ini, tahap penyebarluasan (disseminate) tidak dilakukan karena pertimbangan keterbatasan waktu, tenaga, dan biaya. Selain itu, disesuaikan dengan tujuan pengembangan bahan ajar berbasis e-learning yakni untuk mengetahui kelayakan bahan ajar bukan untuk mengukur prestasi belajar siswa.
Produk pengembangan berupa bahan ajar berbasis e-learning dengan topik hidrokarbon dan minyak bumi. Produk yang dikembangkan berupa bahan ajar berbasis e-learning yang terdiri atas teks, materi dalam bentuk pdf, link ke beberapa web, video tutorial, animasi, dan assignment.  Bahan ajar berbasis e-learning ini telah direvisi berdasarkan hasil penilaian validator ahli dan uji pada kelompok kecil. Validator ahli terdiri atas 1 dosen Kimia Universitas Negeri Malang, 1 dosen Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Malang dan 1 guru kimia SMA Negeri 9 Malang. Uji kelompok kecil dilakukan pada 10 siswa SMA Negeri 9 Malang. Bahan ajar berbasis e-learning ini dilengkapi dengan petunjuk penggunaan, desain pembelajaran, dan instrumen penilaian terhadap ketercapaian tujuan pembelajaran. Media pembelajaran online (e-learning) merupakan hasil pengembangan dengan menggunakan aplikasi LMS (Learning Management System). Aplikasi LMS yang digunakan ialah Moodle dengan alamat website e-learning.fmipa.um.ac.id. Bahan ajar yang dikembangkan termasuk pada course Pembelajaran Kimia SMA. Judul bahan ajar adalah Hidrokarbon dan Minyak Bumi dengan pengajar Anna Rahmaniyah. Bahan ajar berbasis e-learning yang dikembangkan terdiri atas 7 topik yaitu Identifikasi C dan H, Kekhasan Atom Karbon, Minyak Bumi Bagian 1-3, dan Kegunaan Hidrokarbon Bagian 1 & 2. Pada setiap topik memiliki format yang sama, yaitu terdiri dari judul topik, gambar pembuka, tujuan pembelajaran, kalimat penjelasan topik, langkah-langkah pembelajaran, sumber belajar, dan fasilitas komunikasi. Berdasarkan persentase kevalidan yang diperoleh dari validator dan uji kelompok kecil, bahan ajar berbasis e-learning pada materi hidrokarbon dan minyak bumi yang dikembangkan telah memenuhi kriteria valid dan layak digunakan. Revisi produk dilakukan berdasarkan komentar dan saran yang diberikan oleh validator dan kelompok kecil.
Keunggulan e-learning
Salah satu keunggulan pengembangan mata kuliah berbasis online dengan Learning Management Systems sangat mudah karena dosen tidak perlu mengetahui sedikitpun tentang pemrograman web, sehingga lebih banyak waktu untuk memikirkan konten (isi) pembelajaran. Dosen bisa fokus kepada upaya membelajarkan mahasiswa, meningkatkan partisipasi, mengelola interaksi, dan mengembangkan kemampuan belajar mandiri. Learning Management System menggunakan moodle memberikan kesempatan kepada dosen dan mahasiswa mengikuti paradigma e-learning terpadu yang memungkinkan kerjasama, knowledge sharing, dan kolaborasi.
Kelebihan bahan ajar berbasis e-learning pada materi hidrokarbon dan minyak bumi ini dibandingkan bahan ajar yang ada ialah: (1) bahan ajar ini dilengkapi dengan petunjuk penggunaan, desain pembelajaran, dan instrumen penilaian terhadap ketercapaian tujuan pembelajaran, (2) memudahkan terjadi interaksi antara guru, siswa, dan bahan ajar yang merupakan komponen dari peristiwa belajar, (3) kelengkapan fitur yang dimiliki, (4) sumber belajar dapat dimodifikasi sewaktu-waktu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan (5) guru dapat menilai keaktifan dan kualitas diskusi siswa berdasarkan record yang tersimpan dalam media pembelajaran online (e-learning).

PERMASALAHAN:
1    1.  Dalam penerapan e-learning tentu saja terdapat kendala-kendala yang dihadapi, menurut anda apa saja kendala-kenda yang sering terjadi dan bagaimana cara mengatasi kendala tersebut?

2    2.  Efektifkah penerapan e-learning dalam pembelajaran, apa alasannya?

   3. Pemanfaatan elearning diidentifikasi akan menyebabkan perilaku penyendiri tidak mau bersosialisasi dengan orang lain di lingkungannya. Bagaimana upaya dalam mengatasi kemungkinan tersebut?


DAFTAR PUSTAKA
Hanum , Numiek Sulistyo .2013. Keefektifan E-learning Sebagai Media Pembelajaran (Studi Evaluasi Model Pembelajaran E-learning SMK Telkom Sandhi Putra Purwakerto. Jurnal Pendidikan Vokasi. Vol 3, Nomor 1. UNY: Program Studi Pendidikan Teknologi dan Kejuruan PPs UNY
Lestari, Ambar. 2013. Pengembangan E-Learning Berbasis Learning Management System pada Mata Kuliah Media Pembelajaran. Vol. 8 No. 2. Kendari: Dosen Jurusan Tarbiyah STAIN Sultan Qaimuddin Kendari

Kamis, 19 April 2018

Teori Pemrosesan Informasi dengan Bantuan Media


Pengertian Teori Pemrosesan informasi
Teori pemrosesan informasi adalah teori kognitif tentang belajar yang menjelaskan pemrosesan, penyimpanan, dan pemanggilan kembali pengetahuan dari otak. Teori ini menjelaskan bagaimana seseorang memperoleh sejumlah informasi dan dapat diingat dalam waktu yang cukup lama. Oleh karena itu perlu menerapkan suatu strategi belajar tertentu yang dapat memudahkan semua informasi diproses di dalam otak melalui beberapa indera.
Teori pembelajaran pemrosesan informasi adalah bagian dari teori belajar sibernetik. Secara sederhana pengertian belajar menurut teori belajar sibernetik adalah pengolahan informasi. Dalam teori ini, seperti psikologi kognitif mengkaji proses belajar penting dari hasil belajar namun yang lebih penting dari kajian proses belajar itu sendiri adalah sistem informasi, sistem informasi inilah yang pada akhirnya akan menentukan proses belajar.
Model belajar pemrosesan informasi ini sering pula disebut model kognitif information processing, karena dalam proses belajar ini tersedia tiga taraf struktural sistem informasi, yaitu:
1.      Sensory atau intake register: informasi masuk ke sistem melalui sensory register, tetapi hanya disimpan untuk periode waktu terbatas. Agar tetap dalam sistem, informasi masuk ke working memory yang digabungkan dengan informasi di long-term memory.
2.      Working memory: pengerjaan atau operasi informasi berlangsung di working memory, di sini berlangsung berpikir yang sadar. Kelemahan working memory sangat terbatas kapasitas isinya dan memperhatikan sejumlah kecil informasi secara serempak.
3.      Long-term memory, yang secara potensial tidak terbatas kapasitas isinya sehingga mampu menampung seluruh informasi yang sudah dimiliki siswa. Kelemahannya adalah betapa sulit mengakses informasi yang tersimpan di dalamnya.

Teori Pemrosesan Informasi dalam Pembelajaran menurut Robert Mills Gagne
Teori belajar oleh Gagne (1988) disebut dengan “Information Processing Learning Theory”. Teori ini merupakan gambaran atau model dari kegiatan di dalam otak manusia di saat memroses suatu informasi. Karenanya teori belajar tadi disebut juga Information-Processing Model oleh Lefrancois atau Model Pemrosesan Informasi. Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi, untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar.
Model proses belajar yang dikembangkan oleh Gagne didasarkan pada teori pemrosesan informasi, yaitu sebagai berikut :
1.      Rangsangan yang diterima panca indera akan disalurkan ke pusat syaraf dan diproses sebagai informasi.
2.      Informasi dipilih secara selektif, ada yang dibuang, ada yang disimpan dalam memori jangka pendek, dan ada yang disimpan dalam memori jangka panjang.
3.      Memori-memori ini tercampur dengan memori yang telah ada sebelumnya, dan dapat diungkap kembali setelah dilakukan pengolahan.
Multimedia telah banyak digunakan dalam pembelajaran. Menurut Istiyanto (2011), multimedia adalah media yang menggabungkan dua unsur atau lebih yang terdiri dari teks,grafik, gambar, foto, audio, dan animasi secara terintegrasi. Menurut Mayer (2009:3), multimedia didefinisikan sebagai presentasi materi dengan menggunakan kata-kata (verbal form) sekaligus gambar-gambar.
Pembelajaran berbantuan multimedia dapat diartikan sebagai aplikasi multimedia yang digunakan dalam proses pembelajaran, untuk menyalurkan pesan (pengetahuan, keterampilan dan sikap) serta dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan belajar sehingga terjadi proses belajar yang sesuai tujuan dan terkendali (Istiyanto, 2011)
Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran. Asumsinya adalah pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan. Perkembangan merupakan hasil komulatif dari pembelajaran. Dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi yang kemudian diolah sehingga menghasilkan output dalam bentuk hasil belajar. Pembelajaran merupakan keluaran dari pemrosesan informasi yang berupa kecakapan manusia (human capitalities) yang terdiri dari: informasi verbal, kecakapan intelektual, strategi kognitif, sikap, kecakapan motorik.
Model pembelajaran pemrosesan informasi adalah model pembelajaran yang menitikberatkan pada aktivitas yang terkait dengan kegiatan proses atau pengolahan informasi untuk meningkatkan kapabilitas siswa melalui proses pembelajaran. Model ini lebih memfokuskan pada fungsi kognitif peserta didik. Model ini berdasarkan teori belajar kognitif sehingga model tersebut berorientasi pada kemampaun siswa memproses informasi dan sistem-sistem yang dapat memperbaiki kemampuan tersebut.
Dalam bukunya Robert M. Gagne disebutkan bahwa : A very special kind of intellectual skill, of particular in probelem solving, is called a cognitive strategy. In term of modern learning theory, a cognitive strategy is a control process. An internal process by means of which thinking. Gagne mengemukakan delapan fase dalam satu tindakan belajar. Fase-fase itu merupakan kejadian-kejadian eksternal yang dapat distrukturkan oleh siswa atau guru. Setiap fase dipasangkan dengan suatu proses yang terjadi dalam pikiran siswa. Kejadian-kejadian belajar itu akan diuraikan dibawah ini, yaitu: 
         a.   Fase motivasi (Motivation phase)
Fase motivasi adalah pemberian harapan kepada peserta didik bahwa dengan belajar mereka akan mendapat “hadiah”. Hadiah disini adalah bahwa pelajaran yang dipelajari dapat memenuhi keingintahuan mereka tentang suatu pokok bahasan. Pemberian motivasi memungkinkan peserta didik berusaha mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pemberian motivasi ini dapat dilakukan secara instrinsik/ekstrinsik. Motivasi instrinsik dapat membangkitkan semangat belajar siswa. Misalnya seorang siswa belajar karena ingin mendapatkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan, ia akan melakukan aktivitas belajar dengan tekun dan sungguh-sungguh tanpa harus ditugaskan dan didorong oleh guru. Motivasi ekstrinsik dapat mempengaruhi/membangkitkan semangat belajar yang timbul dari luar diri siswa. Misalnya pemberian motivasi, pengajar menarik perhatian siswa dengan menceritakan kegunaan materi ajar yang dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari. Jika pengajar mampu menarik perhatian siswa, maka hal itu merupakan pertanda bahwa dalam diri siswa timbul motivasi atau rasa ingin tahu untuk mempelajari suatu materi pelajaran yang disajikan oleh pengajar.
b     b. Fase pengenalan (Apprehending phase)
Siswa harus memberikan perhatian pada bagian-bagian yang esensial suatu kejadian instruksional jika belajar akan terjadi. Misalnya siswa memperhatikan aspek-aspek yang relevan tentang apa yang dikatakan guru atau tentang gagasan-gagasan utama dalam buku. Guru dapat memfokuskan perhatian terhadap informasi yang penting dengan berkata, misalnya: “Dengarkan kedua kata yang Ibu katakan, apakah ada perbedaanya?” Bahan-bahan tertulis dapat juga diperlukan demikian dengan menggarisbawahi kata atau kalimat tertentu atau memberikan garis-garis besar untuk setiap bab. Tahap berikutnya setelah perhatian adalah keluaran dari “daftar sensori” Kegiatan mental (perhatian) yang diadopsi oleh peserta didik, menentukan aspek stimulus eksternal yang diterima peserta didik. Ini berarti serangkaian stimulus-stimulus yang diterima peserta didik, merupakan tanggapan yang selektif. Supaya terjadinya tanggapan selektif itu dimungkinkan, bentuk stimulus eksternal harus berbeda-beda. Dengan stimulus eksternal yang berbeda-beda itu peserta didik memperhatikan adanya unsur-unsur yang penting dan relevan sehingga sangat membantu kegaiatan belajar selanjutnya.
        c.  Fase perolehan (Acquisition phase)
Bila siswa memperhatikan informasi yang relevan, ia telah siap menerima pelajaran. Informasi yang disajikan tidak langsung disimpan dalam memori. Informasi itu diubah menjadi bentuk yang bermakna yang dihubungkan dengan informasi yang telah ada dalam memori siswa. Suatu informasi dapat diubah oleh siswa menjadi bermakna sehingga dapat dihubungkan dengan informasi yang telah ada dalam ingatannya. Informasi yang tertinggal sementara dalam “ingatan jangka pendek” akan mengalami transformasi ke dalam bentuk yang sudah siap disimpan. Proses ini disebut pengkodean.
d          d. Fase retensi (Retention phase)
Informasi baru yang diperoleh harus dipindahkan dari memori jangka pendek (short term memory) ke memori jangka panjang (long term memory). Ini dapat terjadi melalui pengulangan kembali, praktik, elaborasi, atau lain-lainnya.
e. Fase pemanggilan (Recall phase)
Fase ini merupakan kemampuan mengungkap/memanggil keluar informasi yang telah dimiliki dan disimpan dalam ingatan. Proses menggali ingatan dapat dipengaruhi oleh stimulus eksternal. Dalam proses ini, mungkin siswa akan kehilangan kontak (hubungan) dengan informasi yang ada dalam “ingatan jangka panjang” (long term memory). Kalau keadaannya sudah demikian, maka pengajar harus memberikan stimulus eksternal atau memberikan teknik khusus untuk dapat mengeluarkan informasi yang tersimpan dalam ingatan. Misalnya, memberikan informasi yang relevan kemudian meminta siswa untuk mencari kaitannya.
f. Fase generalisasi (Generalization phase)
Biasanya informasi itu kurang nilainya jika tidak dapat diterapkan di luar konteks dimana informasi itu dipelajari. Jadi, generalisasi atau transfer informasi pada situasi-situasi baru merupakan fase kritis dalam belajar. Transfer ini dapat ditolong dengan menyuruh siswa menggunakan informasi yang telah didapat ke dalam situasi yang berbeda dengan situasi waktu informasi itu didapat. Jadi dalam fase generalisasi ini peserta didik dapat belajar untuk memanfaatkan informasi yang telah didapat ke dalam permasalahan yang relevan dalam kehidupan sehari-hari.
g. Fase penampilan (Performance phase)
Para siswa harus memperlihatkan bahwa mereka telah belajar sesuatu melalui penampilan yang tampak. Misalnya setelah mempelajari operasi bentuk aljabar, para siswa dapat menjumlahkan atau mengurangkan suku-suku sejenis dalam aljabar.
h. Fase umpan balik (Feedback phase)
Para siswa harus memperoleh umpan balik tentang penampilan mereka yang menunjukkan apakah mereka telah atau belum mengerti tentang apa yang diajarkan. Umpan balik ini dapat memberikan reinforcement (penguatan) pada mereka untuk penampilan yang berhasil.
Gagne membuat beberapa rumusan untuk menghubungkan keterkaitan antara faktor internal dan eksternal dalam pembelajaran dalam rangka memaksimalkan tercapainya tujuan pembelajaran, yaitu:
a.  Pembelajaran yang dilakukan dikondisikan untuk menimbulkan minat peserta didik, dan dikondisikan agar perhatian peserta didik terpusat pada pembelajaran sehingga mereka siap untuk menerima pelajaran.
b.   Memulai pelajaran dengan menyampaikan tujuan pembelajaran agar peserta didik mengetahui apa yang diharapkan setelah menerima pelajaran.
c.    Guru harus mengingatkan kembali konsep yang telah dipelajari sebelumnya.
d.   Guru siap untuk menyampaikan materi pelajaran.
e.   Dalam pembelajaran guru memberikan bimbingan atau pedoman kepada siswa untuk belajar.
f.    Guru memberikan motivasi untuk memunculkan respon siswa.
g.   Guru memberikan umpan balik atau penguatan atas respon yang diberikan siswa baik dalam bentuk lisan maupun tulisan.
h.  Mengevaluasi hasil belajar
i.   Memperkuat retensi dan transfer belajar.

Teori Pemrosesan Informasi dalam Pembelajaran menurut Atkinson
Sebuah teori memori yang diusulkan oleh Atkinson dan Shiffrin(1968, 1971) yang menekankan pada interaksi antara penyimpanan sensoris, memori jangka pendek, dan jangka panjang (LTM). Memori Jangka pendek sebagai komponen dasar kedua dalam sistem Atkinson dan Shiffrin adalah bersifat terbatas baik dalam kapasitas maupun durasi. Informasi akan hilang dalam waktu 20-30 detik jika tidak diulang. Kita menggunakan Memori Jangka Pendek atau Short Term Memory (STM), misalnya saat kita mengingat nomor telepon yang kita putar. Memori bentuk ini dibatasi baik dalam jumlah informasi yang dapat ditangkap (kapasitas) maupun lamanya informasi tersebut dapat bertahan (durasi). Durasi STM yang terbatas diilustrasikan dalam kejadian dimana kita dengan mudah melupakan nomor telepon jika kita tidak mengulang secara verbal. Memori jangka panjang memiliki kapasitas yang tidak terbatas dan dapat menahan informasi dalam jangka waktu yang lebih lama, namun sering kali memerlukan usaha yang keras agar dapat memasukkan informasi ke memori ini. Fakta bahwa STM di butuhkan ketika kita menyelesaikan sebagian besar tugas-tugas kognitif mencerminkan peran penting STM sebagai sebuah memori kerja (working memory) yang menjaga dan memanipulasi informasi.
Teori yang diajukan oleh Atkinson san Shiffrin (1968, 1971) menekankan pada interaksi antara STM dan LTM. Memori jangka penjang memiliki dua manfaat penting: Pertama, sebagaimana diketahui, kecepatan lupa jauh lebih rendah untuk LTM. Beberapa psikologi bahkan menyatakan bahwa informasi dalam LTM tidak pernah hilang meskipun kita kehilangan kemampuan untuk memanggil kembali informasi tersebut; dan LTM memiliki kapasitas yang tidak terbatas. Meskipun demikian, tidaklah selalu mudah memasukkan informasi baru ke dalam LTM. Atkinson dan Shiffrin mengajukan beberapa proses kontrol yang dapat digunakan sebagai usaha untuk mempelajari informasi baru. Proses kontrol (control proses) adalah strategi yang digunakan seseorang untuk memfasilitasi perolehan pengetahuan. Strategi tersebut meliputi strategi akuisisi terhadap:
a.       Pengulangan (rehearsal) merupakan repitisi informasi baik dengan keras maupun lirih secara terus-menerus hingga informasi tersebut berhasil dipelajari.
b.      Pengodean (coding) berusaha menempatkan informasi agar dapat diingat dalam konteks informasi tambahan yang mudah diingat, seperti frase atau kalimat mnemonic.
c.       Membuat gambaran (imaging) meliputi menciptakan gambaran visual agar materi lebih mudah diingat. Strategi ini merupakan trik memori lama bahkan trik ini direkomendasikan oleh Cicero di Romawi Kuno untik mempelajari daftar yang panjang atau pidato.
Pengulangan verbal biasanya dianggap sebagai suatu bentuk pembelajaran dengan sistem hafal (rote learning) karena melibatkan pengulangan informasi secara terus menerus sampai kita piker sudah berhasil mempelajarinya. Pengulangan verbal berguna ketika materi yang dipelajari agak abstrak yang sulit dengan menggunakan strategi pengodean atau membuat gambaran. Tugas yang didesain oleh Atkinson dan Shiffrin (1968) menuntun pembelajaran materi yang abstrak dan tidak bermakna, sehingga mendorong subjek untuk menggunakan pengulangan.

PERMASALAHAN:
     1    Seperti yang telah sering dialami para guru, pesan atau keterangan yang disampaikan seorang guru dapat hilang seluruhnya dari ingatan para siswa jika pesan atau keterangan tersebut terkategori sebagai ingatan inderawi . Bagaimana caranya agar informasi atas keterangan seorang guru tidak akan hilang begitu saja dari ingatan siswa?

2  2.  perhatian para siswa terhadap informasi atau masukan dari para guru akan sangat menentukan diterima tidaknya suatu informasi yang disampaikan para guru, untuk itu bagaimana cara menarik perhatian para siswa terhadap bahan yang disajikan?

3   3. Sebagai seorang guru, kira-kira media seperti apa yang baik digunakan agar  informasi yang diperoleh siswa dapat masuk ke memori jangka panjang?


DAFTAR PUSTAKA
Nahor Murani Hutapea, Pembelajaran Matemtika Melalui Penerapan Fase-fase Balajar Gagne, tesis program strata dua, (Surabaya: Perpustakaan Unesa, 2004), h. 14-17
Rehalat, Aminah. 2014. Model Pembelajaran Pemrosesan Informasi. Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial, Volume 23, No. 2, Edisi Desember. Ambon: Unpatti


Jumat, 13 April 2018

Landasan Teoritis Multimedia Pembelajaran


1

1 1.     Pengertian Multimedia 

Secara etimologis multimedia berasal dari kata multi (bahasa latin, yang berarti  banyak, bermacam-macam) dan medium (bahasa latin, yang berarti sesuatu yang dipakai untuk menyampaikan atau membawa sesuatu).
Pengertian “multimedia” menurut Hackbarth (1996: 229) adalah: Multimedia diartikan sebagai suatu penggunaan gabungan beberapa media dalam menyampaikan informasi yang berupa teks, grafik atau animasi grafis, movie, video, dan audio. Multimedia meliputi hypermedia dan hypertext. Hypermedia yaitu suatu format presentasi multimedia yang meliputi teks, grafis diam atau animasi, bentuk movie, video dan audio. Hypertext yaitu bentuk teks, diagram statis, gambar dan tabel yang ditayangkan dan disusun secara tidak linier.
Multimedia merupakan kombinasi dari teks, gambar, seni grafik, suara, animasi dan elemen-elemen video yang dimanipulasi secara digital. tampilan dan cita rasa dari proyek multimedia harus menyenangkan, estetis, mengundang dan mengikat. Proyek harus memuat konsistensi visual, hanya dengan menggunakan elemen-elemen yang mendukung pesan keseluruhan dari program.
2.      Klasifikasi Multimedia Pembelajaran
Multimedia dapat kita bagi kedalam dua bagian, yaitu:
A.    Multimedia linear
Multimedia linear adalah suatu multimedia yang tidak dilengkapi dengan alat pengontrol apapun yang dapat dioperasikan oleh pengguna. Multimedia linear berjalan beurutan (sekuensial). Contohnya adalah TV dan Film.
B.     Multimedia interaktif
Multimedia interaktif adalah suatu multimedia yang dilengkapi dengan alat pengontrol dan dapat dioperasikan oleh pengguna, sehingga dapat dipilih sesuai dengan pilihan yang dikehendaki. Contohnya adalah multimedia pembelajaran interaktif berbasis flah, swishmax, maupun ms.  power point, serta aplikasi game.
3.      Kelebihan dari Multimedia
Berikut ini merupakan kelebihan yang dimiliki oleh multimedia:
1.      Menarik perhatian, karena manusia memiliki keterbatasan pada daya ingat.
2.       Media alternatif dalam penyampaian pesan, karena multimedia diperkuat dengan teks, suara, gambar, video dan animasi.
3.      Meningkatkan kualitas penyampaian informasi
4.      Mendorong partisipasi, keterlibatan, dan eksplorasi pengguna
5.      Menstimulasi panca indera.

4.      Landasan Penggunaan Media Pembelajaran    
Ada beberapa tinjauan tentang landasan penggunaan media pembelajaran, antara lain landasan filosofis, psikologis, teknologis, dan empiris.
A.    Landasan filosofis.
Menurut Daryanto (2010:12)  memaparkan landasan filosofis penggunaan media pembelajaran yaitu  bahwa dengan digunakannya berbagai jenis media hasil teknologi baru di dalam kelas, akan berakibat proses pembelajaran yang kurang manusiawi. Dengan kata lain, penerapan teknologi dalam pembelajaran akan terjadi dehumanisasi. Bukankah dengan adanya berbagai media pembelajaran justru siswa dapat mempunyai banyak pilihan untuk digunakan media yang sesuai dengan karakteristik pribadinya? Dengan kata lain siswa dihargai harkat kemanusiaanya diberi kebebasan untuk menentukan pilihan, baik cara maupun alat belajar sesuai dengan kemampuannya. Dengan demikian, penerapan teknologi tidak berarti dehumanisasi. Sebenarnya perbedaan pendapat tersebut tidak perlu muncul, yang penting bagaimana pandangan guru terhadap siswa dalam proses pembelajaran. Jika guru menganggap siswa sebagai anak manusia yang memiliki kepribadian, harga diri, motivasi, dan memiliki kemampuan pribadi yang berbeda dengan yang lain,maka baik menggunaka media hasil teknologi baru atau tidak, proses pembelajaran yang dilakukan akan tetap menggunakan pendekatan humanis.
B.     Landasan psikologis.
Dengan memperhatikan kompleks dan uniknya proses belajar, maka ketepatan pemilihan media dan metode pembelajaran akan sangat berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Di samping itu, persepsi siswa juga sangat mempengaruhi hasil belajar. Oleh sebab itu, dalam pemilihan media, di samping memperhatikan kompleksitas dan keunikan proses belajar, memahami makna persepsi serta faktor-faktor yang berpengaruh terhadap penjelasan persepsi hendaknya diupayakan secara optimal agar proses pembelajaran dapat berangsung secara efektif. Untuk maksud tersebut, perlu: (1) diadakan pemilihan media yang tepat sehingga dapat menarik perhatian siswa serta memberikan kejelasan obyek yang diamatinya, (2) bahan pembelajaran yang akan diajarkan disesuaikan dengan pengalaman siswa.
Kajian psikologi menyatakan bahwa anak akan lebih mudah mempelajari hal yang konkrit ketimbang yang abstrak. Berkaitan dengan kontinuum konkrit-abstrak dan kaitannya dengan penggunaan media pembelajaran, ada beberapa pendapat. Pertama, Jerome Bruner, mengemukakan bahwa dalam proses pembelajaran hendaknya menggunakan urutan dari belajar dengan gambaran atau film (iconic representation of experiment) kemudian ke belajar dengan simbul, yaitu menggunakan kata-kata (symbolic representation). Menurut Bruner, hal ini juga berlaku tidak hanya untuk anak tetapi juga untuk orang dewasa. Kedua, Charles F. Haban, mengemukakan bahwa sebenarnya nilai dari media terletak pada tingkat realistiknya dalam proses penanaman konsep, ia membuat jenjang berbagai jenis media mulai yang paling nyata ke yang paling abstrak. Ketiga, Edgar Dale, membuat jenjang konkrit-abstrak dengan dimulai dari siswa yang berpartisipasi dalam pengalaman nyata, kemudian menuju siswa sebagai pengamat kejadian nyata, dilanjutkan ke siwa sebagai pengamat terhadap kejadian yang disajikan dengan media, dan terakhir siswa sebagai pengamat kejadian yang disajikan dengan simbul.
C.    Landasan teknologis.
Teknologi pembelajaran adalah teori dan praktek perancangan, pengembangan, penerapan, pengelolaan, dan penilaian proses dan sumber belajar. Jadi, teknologi pembelajaran merupakan proses kompleks dan terpadu yang melibatkan orang, prosedur, ide, peralatan, dan organisasi untuk menganalisis masalah, mencari cara pemecahan, melaksanakan, mengevaluasi, dan mengelola pemecahan masalah-masalah dalam situasi di mana kegiatan belajar itu mempunyai tujuan dan terkontrol. Dalam teknologi pembelajaran, pemecahan masalah dilakukan dalam bentuk: kesatuan komponen-komponen sistem pembelajaran yang telah disusun dalam fungsi disain atau seleksi, dan dalam pemanfaatan serta dikombinasikan sehingga menjadi  sistem pembelajaran yang lengkap. Komponen-omponen ini termasuk pesan, orang, bahan, media, peralatan, teknik, dan latar.
D.    Landasan empiris.
Temuan-temuan penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara penggunaan media pembelajaran dan karakteristik belajar siswa dalam menentukan hasil belajar siswa. Artinya, siswa akan mendapat keuntungan yang signifikan bila ia belajar dengan menggunakan media yang sesuai dengan karakteristik tipe atau gaya belajarnya. Siswa yang memiliki tipe belajar visual akan lebih memperoleh keuntungan bila pembelajaran menggunakan media visual, seperti gambar, diagram, video, atau film. Sementara siswa yang memiliki tipe belajar auditif, akan lebih suka belajar dengan media audio, seperti radio, rekaman suara, atau ceramah guru. Akan lebih tepat dan menguntungkan siswa dari kedua tipe belajar tersebut jika menggunakan media audio-visual. Berdasarkan landasan rasional empiris tersebut, maka pemilihan media pembelajaran hendaknya jangan atas dasar kesukaan guru, tetapi harus mempertimbangkan kesesuaian antara karakteristik pebelajar, karakteristik materi pelajaran, dan karakteristik media itu sendiri.

PERMASALAHAN:
1.      Ada suatu pandangan yang menyatakan bahwa dengan digunakannya berbagai jenis media hasil teknologi baru di dalam kelas, akan berakibat proses pembelajaran yang kurang manusiawi. Bagaimana pendapat anda mengenai hal ini?

2.      Siswa akan mendapat keuntungan yang signifikan bila ia belajar dengan menggunakan media yang sesuai dengan karakteristik tipe atau gaya belajarnya. Seperti yang kita ketahui karakteristik siswa itu sangat berbeda, ada siswa yang memiliki tipe belajar visual dan ada tipe belajarnya auditif. Untuk itu sebagai seorang guru bagaimana cara kita agar tujuan pembelajaran tetap tercapai dengan karakteristik siswa yang berbeda tersebut?

3.      Landasan psikologis menggaris bawahi bahwa dalam menggunakan media pembelajaran hendaknya seorang guru mengetahui kecenderungan minat dan keinginan siswa agar nantinya materi yang diajarkan lebih mengena dan lebih mudah dipahami. Bagaimana cara guru menegetahui kecenderungan minat dan keinginan siswa dengan jumlah yang banyak?