Apa itu Multimedia?
Vaughan
(2006: 2) mengatakan bahwa multimedia merupakan kombinasi teks, seni, suara,
animasi, dan video yang disampaikan kepada seorang (peserta didik) dengan
komputer atau peralatan manipulasi elektronik dan digital yang lain. Melalui
gabungan media-media ini pengalaman belajar menjadi sesuatu yang interaktif
yang mencerminkan suatu pengalaman dalam kehidupan sehari-hari.
Multimedia
dapat dipandang sebagai alat atau perangkat pembelajaran dan komunikasi,
mengingat dengan multimedia kita dapat belajar sebuah topok,materi, dan konten
belajar. Tujuan umum penggunaan multimedia dalam pendidikan menurut Andresen
& Brink (2013) adalah:
1. Mengkonstruksi
pengetahuan yang bermakna dan dapat dimengerti. Ini berarti pengembangan sistem
yang terstruktur baik dalam sebuah disiplin ilmu, antardisiplin ilmu dan
berorientasi pada kehidupan sehari-hari yang fleksibel dan memiliki kompetensi,
kemampuan, keahlian, dan konten pengetahuan yang bermanfaat.
2. Mengkonstruksi
pengetahuan yang dapat diaplikasikan. Maksudnya adalah bagaimana mentransfer
pengetahuan yang bermakna dan dimengerti ke dalam pengetahuan yang dapat
diaplikasikan.
3. Mengkonstruksi
pengetahuan tentang belajar. Kompetensi yang penting ini memungkinkan peserta
didik menjadi ahli dalam proses belajar secara mandiri.
Beberapa Manfaat Multimedia Dalam
Pendidikan
Berikut
ini deskripsi dari manfaat multimedia pembelajaran bagi peserta didik dan
pengajar anatara lain:
a) Dapat
belajar sesuai waktu dan kesempatan yang tersedia.
b) Dapat
belajar di ruang kelas atau tempat yang berbeda.
c) Dapat
belajar dengan tutor yang sabar (multimedia sebagai tutor).
d) Dapat
belajar secara aktif dan menerima feedback.
e) Dapat
meningkatkan aspek motivasi dalam belajar secara mandiri/kolaboratif.
Prinsip Dasar Multimedia
Pembelajaran
Richard
E. Mayer (2009) menyatakan pesan multimedia yang dirancang dengan tata cara
otak manusia
bekerja akan lebih mungkin pembelajaran menjadi lebih bermakna dibandingkan
dengan pesan multimedia yang tidak dirancang dengan mengikuti cara kerja otak
manusia. Oleh karena itu Richard E. Mayer menawarkan lima tahapan dalam merancan
pesan multimedia yaitu:
1. memilih
kata-kata yang relevan dari teks dan narasi yang tersaji
2. memilih
gambar-gambar yang relevan dari ilustrasi yang tersaji
3. mengatur
kata-kata yang terpilih kedalam represendasi verbal yang koheren,
4. mengatur
gambar-gamabr yang tersaji kedalam representasi visual yang koheren dan
5. memadukan representasi verbal dan representasi
visual secara koheren.
Untuk
memperoleh multimedia yang dapat meningkatkan pemahaman siswa dan memiliki
kualitas tampilan yang baik maka desain pesan multimedia perlu dipadukan dengan
prinsip-prinsip desain multimedia. Lebih lanjut Richard E. Mayer (2009)
menyebutkan tujuh prinsip desain multimedia untuk dapat meningkatkan pemahaman
dan kemampuan belajar siswa. Prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut:
1) Prinsip Multimedia (keragaman media), 2) Prinsip Keterdekatan Ruang
(keeratan hubungan teks dengan gambar),
3) Prinsip Keterdekatan Waktu (menyederhanakan tampilan materi), 4)
Prinsip Koherensi ( menyingkirkan media tambahan yang tidak terkait dengan
materi), 5) Prinsip Modalitas ( tata letak teks dan gambar lebih mudah
dipahami), 6) Prinsip Redundansi (
penguatan), 7) Prinsip Perbedaan Individual (materi disesuaikan dengan
kebutuhan siswa yang berpengetahuan rendah. (Richard. E. Mayer,2009: 272).
1. Prinsip
multimedia
Siswa
dapat belajar lebih baik dari kata-kata dan gambar-gambar daripada hanya
kata-kata saja. Apabila pengembang multimedia pembelajaran menginginkan
peningkatan pemahaman dan meningkatkan mutu desain multimedia maka sajian
multimedia hendaknya memadukan dua kata-kata (teks) dan diikuti dengan sajian
gambar.
2. Prinsip
keterdekatan ruang (spatial contiguity principle)
Siswa
dapat belajar lebih baik saat kata-kata dan gambar-gambar terkait disajikan
secara berdekatan daripada saat disajikan saling berjauhan dalam halaman atau
layar slide. Gambar dan kata-kata yang disajikan haruslah berdekatan dalam
on-screen. Gambar dan teks/ kata yang berjauhan akan menyulitkan bagi siswa
untuk memahami-nya atau bisa jadi bias makna yang disebabkan tek dan gambar
yang berjauhan tersebut.
3.
Prinsip keterdekatan waktu
Siswa
dapat belajar lebih baik saat kata-kata dan gambar terkait disajikan secara
simultan (berbarengan) daripada suksesif (bergantian). Untuk meningkatkan
pemehaman siswa gambar dan teks/kata sebaiknya disajikan secara berbarengan
dalam on-screen bukan bergantian sebab jika disajikan secara bergantian dapat
menyebabkan terjadi kesalahan dalam memproses informasi yaitu hubungan mental
antara representasi verbal dan representasi visual tidak terjadi.
4.
Prinsip Koherensi
Siswa
dapat belajar lebih baik saat kata-kata, gambar-gambar atau suarasuara ekstra/tambahan
dibuang daripada dimasukkan. Unsure-unsur tambahan yang tidak perlu sebaiknya
dihilangkan dalam tampilan onscreen, karena unsur tambahan tersebut akan
mengalihkan perhatian siswa dari materi yang penting, bisa menggangu proses
penataan materi, dan dapat menggiring siswa pada materi yang tidak sesuai
dengan tujuan pembelajaran.
5.
Prinsip modalitas
Siswa
dapat belajar lebih baik dari animasi dan narasi daripada animasi dan teks
on-screen. Gambar-gambar dan kata-kata sama disajikan secara visual (yakni
sebagai animasi dan teks) akan menyebabkan saluran visual/pictorial kelebihan
beban sebaliknya saluran auditori/verbal tidak termanfaatkan. Oleh karena itu
dlam pengembangan multimedia saluaran visual dan auditori digunakan secara
seimbang.
6.
Prinsip redundansi
Siswa
dapat belajar lebih baik dari gambar dan narasi darpada gambar, narasi dan
teks on-screen. Jika kata-kata dan gambar-gambar disajikan secara visual yakni
animasi dan teks akan menyebabkan saluran visual kelebihan beban sehingga
pemrosesan informasi kurang maksimal.
7.
Prinsip perbedaan individual
Pengaruh
desain lebih kuat terhadap siswa berpengatahuan rendah daripada siswa
berpengetahuan tinggi, dan siswa berkemampuan spatial tinggi lebih baik
daripada siswa berspasial rendah. Penggunaan multimedia sebainya digunakan pada
siswa yang belum mempelajari materi bukan untuk mengulang (remidi), sebab siswa
yang memiliki pengetahuan kurang tertarik pada unsur-unsur multimedia. Begitu juga
siswa yang kemampuan spasial rendah juga tidak begitu tertarik dengan tampilan
multimedia.
Semua
prinsip-prinsip tersebut penting dipertimbangkan dalam mengembangkan sebuah
media yang efektif dalam meningkatkan prestasi belajar siswa. Prestasi belajara
adalah perubahan bidang pengetahuan, pemahaman, penerapan, daya analisis,
sintesis dan evaluasi siswa melalui proses belajar yang dialaminya (Reni Akbar
Hawadi, 2004:68).
PERMASALAHAN:
1.
Multimedia adalah penggunaan komputer untuk menyajikan dan menggabungkan teks,
suara, gambar, animasi, audio dan video dengan alat bantu (tool) dan koneksi
(link) sehingga pengguna dapat melakukan navigasi, berinteraksi, berkarya dan
berkomunikasi. Oleh karena itu keberhasilan guru dalam proses pembelajaran
didukung dengan penggunaan media yang tepat, serta penyampaian materi yang di
desain semenarik mungkin sehingga dapat mengarahkan anak didik bersifat aktif
dalam proses embelajaran. Namun terdapat masalah yaitu kurangnya kemampuan guru
dalam menggali dan menggunakan teknologi informasi di sekolah atau yang
dimiliki guru seperti media laptop, netbook, internet , dan lain-lain.
Bagaimana menurut anda solusi yang tepat untuk mengatasi permasalahan ini?
2.
Dalam era teknologi dan informasi ini, pemanfaatan kecanggihan teknologi untuk
kepentingan pembelajaran sudah bukan merupakan hal yang baru lagi. Salah satu
media pembelajaran baru yang akhir-akhir ini semakin menggeserkan peranan guru
hidup adalah teknologi multimedia yang tersedia melalui perangkat komputer.
Bagaimana tanggapan anda mengenai bergesernya peranan guru setelah munculnya
multimedia yang tersedia melalui perangkat komputer? Bagaimana cara mengatasi
agar peran guru tidak bergeser dengan adanya multimedia?
3. permasalahan yang sering muncul berkenaan dengan media pembelajaran yaitu ketersediaan,. ketersediaan media sangat kurang sehingga para pengajar menggunakan media yang minimal. media yang digunakan adalah media cetak, dan didukung dengan alat bantu sederhana yang masih tetap digunakan seperti papan tulis dan kapur atau spidol. sehingga media audio dan visual, dan media elektronik sulit untuk diterapkan, khususnya untuk daerah daerah yang terpencil. Menurut anda apa hal yang tepat untuk mengatasi masalah ini sehingga pendidikan di daerah terpencil ini bisa lebih efektif!

