Pengertian Teori Pemrosesan
informasi
Teori
pemrosesan informasi adalah teori kognitif tentang belajar yang menjelaskan
pemrosesan, penyimpanan, dan pemanggilan kembali pengetahuan dari otak. Teori
ini menjelaskan bagaimana seseorang memperoleh sejumlah informasi dan dapat
diingat dalam waktu yang cukup lama. Oleh karena itu perlu menerapkan suatu
strategi belajar tertentu yang dapat memudahkan semua informasi diproses di
dalam otak melalui beberapa indera.
Teori
pembelajaran pemrosesan informasi adalah bagian dari teori belajar sibernetik.
Secara sederhana pengertian belajar menurut teori belajar sibernetik adalah
pengolahan informasi. Dalam teori ini, seperti psikologi kognitif mengkaji
proses belajar penting dari hasil belajar namun yang lebih penting dari kajian
proses belajar itu sendiri adalah sistem informasi, sistem informasi inilah
yang pada akhirnya akan menentukan proses belajar.
Model
belajar pemrosesan informasi ini sering pula disebut model kognitif information
processing, karena dalam proses belajar ini tersedia tiga taraf struktural sistem
informasi, yaitu:
1.
Sensory atau intake register: informasi masuk ke
sistem melalui sensory register, tetapi hanya disimpan untuk periode waktu
terbatas. Agar tetap dalam sistem, informasi masuk ke working memory yang
digabungkan dengan informasi di long-term memory.
2.
Working memory: pengerjaan atau operasi informasi
berlangsung di working memory, di sini berlangsung berpikir yang sadar.
Kelemahan working memory sangat terbatas kapasitas isinya dan memperhatikan
sejumlah kecil informasi secara serempak.
3.
Long-term memory, yang secara potensial tidak terbatas
kapasitas isinya sehingga mampu menampung seluruh informasi yang sudah dimiliki
siswa. Kelemahannya adalah betapa sulit mengakses informasi yang tersimpan di
dalamnya.
Teori Pemrosesan Informasi dalam Pembelajaran menurut Robert Mills Gagne
Teori
belajar oleh Gagne (1988) disebut dengan “Information Processing Learning Theory”.
Teori ini merupakan gambaran atau model dari kegiatan di dalam otak manusia di
saat memroses suatu informasi. Karenanya teori belajar tadi disebut juga Information-Processing
Model oleh Lefrancois atau Model Pemrosesan Informasi. Menurut Gagne bahwa
dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi, untuk kemudian diolah
sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar.
Model
proses belajar yang dikembangkan oleh Gagne didasarkan pada teori pemrosesan
informasi, yaitu sebagai berikut :
1.
Rangsangan yang diterima panca indera akan disalurkan
ke pusat syaraf dan diproses sebagai informasi.
2.
Informasi dipilih secara selektif, ada yang dibuang,
ada yang disimpan dalam memori jangka pendek, dan ada yang disimpan dalam
memori jangka panjang.
3.
Memori-memori ini tercampur dengan memori yang telah
ada sebelumnya, dan dapat diungkap kembali setelah dilakukan pengolahan.
Multimedia telah banyak digunakan dalam pembelajaran. Menurut Istiyanto
(2011), multimedia adalah media yang menggabungkan dua unsur atau lebih yang
terdiri dari teks,grafik, gambar, foto, audio, dan animasi secara terintegrasi.
Menurut Mayer (2009:3), multimedia didefinisikan sebagai presentasi materi
dengan menggunakan kata-kata (verbal form) sekaligus gambar-gambar.
Pembelajaran berbantuan multimedia dapat diartikan sebagai aplikasi
multimedia yang digunakan dalam proses pembelajaran, untuk menyalurkan pesan
(pengetahuan, keterampilan dan sikap) serta dapat merangsang pikiran, perasaan,
perhatian, dan kemauan belajar sehingga terjadi proses belajar yang sesuai
tujuan dan terkendali (Istiyanto, 2011)
Dalam
pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi internal
dan kondisi-kondisi eksternal individu. Kondisi internal yaitu keadaan dalam
diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang
terjadi dalam individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan
yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran. Asumsinya adalah pembelajaran
merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan. Perkembangan merupakan
hasil komulatif dari pembelajaran. Dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan
informasi yang kemudian diolah sehingga menghasilkan output dalam bentuk hasil
belajar. Pembelajaran merupakan keluaran dari pemrosesan informasi yang berupa kecakapan
manusia (human capitalities) yang terdiri dari: informasi verbal, kecakapan
intelektual, strategi kognitif, sikap, kecakapan motorik.
Model pembelajaran
pemrosesan informasi adalah model pembelajaran yang
menitikberatkan pada aktivitas yang terkait dengan kegiatan proses atau pengolahan informasi untuk meningkatkan kapabilitas siswa melalui proses pembelajaran. Model ini lebih memfokuskan pada fungsi kognitif peserta didik. Model ini berdasarkan teori belajar kognitif sehingga model tersebut berorientasi pada kemampaun siswa memproses informasi dan
sistem-sistem yang dapat
memperbaiki kemampuan tersebut.
Dalam
bukunya Robert M. Gagne disebutkan bahwa : A very special kind of intellectual
skill, of particular in probelem solving, is called a cognitive
strategy. In term of modern learning theory, a cognitive strategy is
a control process. An internal process by means of which thinking. Gagne
mengemukakan delapan fase dalam satu tindakan belajar. Fase-fase itu merupakan
kejadian-kejadian eksternal yang dapat distrukturkan oleh siswa atau guru.
Setiap fase dipasangkan dengan suatu proses yang terjadi dalam pikiran siswa.
Kejadian-kejadian belajar itu akan diuraikan dibawah ini, yaitu:
a. Fase
motivasi (Motivation phase)
Fase
motivasi adalah pemberian harapan kepada peserta didik bahwa dengan belajar
mereka akan mendapat “hadiah”. Hadiah disini adalah bahwa pelajaran yang
dipelajari dapat memenuhi keingintahuan mereka tentang suatu pokok bahasan.
Pemberian motivasi memungkinkan peserta didik berusaha mencapai tujuan yang
telah ditetapkan. Pemberian motivasi ini dapat dilakukan secara
instrinsik/ekstrinsik. Motivasi instrinsik dapat membangkitkan semangat belajar
siswa. Misalnya seorang siswa belajar karena ingin mendapatkan pengetahuan,
sikap, dan keterampilan, ia akan melakukan aktivitas belajar dengan tekun dan
sungguh-sungguh tanpa harus ditugaskan dan didorong oleh guru. Motivasi ekstrinsik
dapat mempengaruhi/membangkitkan semangat belajar yang timbul dari luar diri
siswa. Misalnya pemberian motivasi, pengajar menarik perhatian siswa dengan
menceritakan kegunaan materi ajar yang dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari.
Jika pengajar mampu menarik perhatian siswa, maka hal itu merupakan pertanda
bahwa dalam diri siswa timbul motivasi atau rasa ingin tahu untuk mempelajari
suatu materi pelajaran yang disajikan oleh pengajar.
b b. Fase
pengenalan (Apprehending phase)
Siswa
harus memberikan perhatian pada bagian-bagian yang esensial suatu kejadian
instruksional jika belajar akan terjadi. Misalnya siswa memperhatikan
aspek-aspek yang relevan tentang apa yang dikatakan guru atau tentang
gagasan-gagasan utama dalam buku. Guru dapat memfokuskan perhatian terhadap
informasi yang penting dengan berkata, misalnya: “Dengarkan kedua kata yang Ibu
katakan, apakah ada perbedaanya?” Bahan-bahan tertulis dapat juga diperlukan
demikian dengan menggarisbawahi kata atau kalimat tertentu atau memberikan
garis-garis besar untuk setiap bab. Tahap berikutnya setelah perhatian adalah
keluaran dari “daftar sensori” Kegiatan mental (perhatian) yang diadopsi oleh
peserta didik, menentukan aspek stimulus eksternal yang diterima peserta didik.
Ini berarti serangkaian stimulus-stimulus yang diterima peserta didik,
merupakan tanggapan yang selektif. Supaya terjadinya tanggapan selektif itu
dimungkinkan, bentuk stimulus eksternal harus berbeda-beda. Dengan stimulus
eksternal yang berbeda-beda itu peserta didik memperhatikan adanya unsur-unsur
yang penting dan relevan sehingga sangat membantu kegaiatan belajar selanjutnya.
c. Fase
perolehan (Acquisition phase)
Bila
siswa memperhatikan informasi yang relevan, ia telah siap menerima pelajaran.
Informasi yang disajikan tidak langsung disimpan dalam memori. Informasi itu
diubah menjadi bentuk yang bermakna yang dihubungkan dengan informasi yang
telah ada dalam memori siswa. Suatu informasi dapat diubah oleh siswa menjadi
bermakna sehingga dapat dihubungkan dengan informasi yang telah ada dalam
ingatannya. Informasi yang tertinggal sementara dalam “ingatan jangka pendek”
akan mengalami transformasi ke dalam bentuk yang sudah siap disimpan. Proses
ini disebut pengkodean.
d d. Fase
retensi (Retention phase)
Informasi
baru yang diperoleh harus dipindahkan dari memori jangka pendek (short term
memory) ke memori jangka panjang (long term memory). Ini dapat terjadi melalui
pengulangan kembali, praktik, elaborasi, atau lain-lainnya.
e.
Fase pemanggilan (Recall phase)
Fase
ini merupakan kemampuan mengungkap/memanggil keluar informasi yang telah
dimiliki dan disimpan dalam ingatan. Proses menggali ingatan dapat dipengaruhi
oleh stimulus eksternal. Dalam proses ini, mungkin siswa akan kehilangan kontak
(hubungan) dengan informasi yang ada dalam “ingatan jangka panjang” (long term
memory). Kalau keadaannya sudah demikian, maka pengajar harus memberikan
stimulus eksternal atau memberikan teknik khusus untuk dapat mengeluarkan
informasi yang tersimpan dalam ingatan. Misalnya, memberikan informasi yang
relevan kemudian meminta siswa untuk mencari kaitannya.
f.
Fase generalisasi (Generalization phase)
Biasanya
informasi itu kurang nilainya jika tidak dapat diterapkan di luar konteks
dimana informasi itu dipelajari. Jadi, generalisasi atau transfer informasi
pada situasi-situasi baru merupakan fase kritis dalam belajar. Transfer ini
dapat ditolong dengan menyuruh siswa menggunakan informasi yang telah didapat
ke dalam situasi yang berbeda dengan situasi waktu informasi itu didapat. Jadi
dalam fase generalisasi ini peserta didik dapat belajar untuk memanfaatkan
informasi yang telah didapat ke dalam permasalahan yang relevan dalam kehidupan
sehari-hari.
g.
Fase penampilan (Performance phase)
Para
siswa harus memperlihatkan bahwa mereka telah belajar sesuatu melalui
penampilan yang tampak. Misalnya setelah mempelajari operasi bentuk aljabar,
para siswa dapat menjumlahkan atau mengurangkan suku-suku sejenis dalam
aljabar.
h.
Fase umpan balik (Feedback phase)
Para
siswa harus memperoleh umpan balik tentang penampilan mereka yang menunjukkan
apakah mereka telah atau belum mengerti tentang apa yang diajarkan. Umpan balik
ini dapat memberikan reinforcement (penguatan) pada mereka untuk penampilan
yang berhasil.
Gagne
membuat beberapa rumusan untuk menghubungkan keterkaitan antara faktor internal
dan eksternal dalam pembelajaran dalam rangka memaksimalkan tercapainya tujuan
pembelajaran, yaitu:
a. Pembelajaran yang dilakukan dikondisikan
untuk menimbulkan minat peserta didik, dan dikondisikan agar perhatian peserta
didik terpusat pada pembelajaran sehingga mereka siap untuk menerima pelajaran.
b. Memulai pelajaran dengan menyampaikan tujuan
pembelajaran agar peserta didik mengetahui apa yang diharapkan setelah menerima
pelajaran.
c. Guru harus mengingatkan kembali konsep yang
telah dipelajari sebelumnya.
d. Guru siap untuk menyampaikan materi pelajaran.
e. Dalam pembelajaran guru memberikan bimbingan
atau pedoman kepada siswa untuk belajar.
f. Guru memberikan motivasi untuk memunculkan
respon siswa.
g. Guru memberikan umpan balik atau penguatan
atas respon yang diberikan siswa baik dalam bentuk lisan maupun tulisan.
h. Mengevaluasi hasil belajar
i. Memperkuat retensi dan transfer belajar.
Teori Pemrosesan Informasi dalam Pembelajaran menurut Atkinson
Sebuah
teori memori yang diusulkan oleh Atkinson dan Shiffrin(1968, 1971) yang menekankan
pada interaksi antara penyimpanan sensoris, memori jangka pendek, dan jangka
panjang (LTM). Memori Jangka pendek sebagai komponen dasar kedua dalam sistem
Atkinson dan Shiffrin adalah bersifat terbatas baik dalam kapasitas maupun durasi.
Informasi akan hilang dalam waktu 20-30 detik jika tidak diulang. Kita menggunakan
Memori Jangka Pendek atau Short Term Memory (STM), misalnya saat kita mengingat
nomor telepon yang kita putar. Memori bentuk ini dibatasi baik dalam jumlah
informasi yang dapat ditangkap (kapasitas) maupun lamanya informasi tersebut
dapat bertahan (durasi). Durasi STM yang terbatas diilustrasikan dalam kejadian
dimana kita dengan mudah melupakan nomor telepon jika kita tidak mengulang
secara verbal. Memori jangka panjang memiliki kapasitas yang tidak terbatas dan
dapat menahan informasi dalam jangka waktu yang lebih lama, namun sering kali
memerlukan usaha yang keras agar dapat memasukkan informasi ke memori ini.
Fakta bahwa STM di butuhkan ketika kita menyelesaikan sebagian besar
tugas-tugas kognitif mencerminkan peran penting STM sebagai sebuah memori kerja
(working memory) yang menjaga dan memanipulasi informasi.
Teori
yang diajukan oleh Atkinson san Shiffrin (1968, 1971) menekankan pada interaksi
antara STM dan LTM. Memori jangka penjang memiliki dua manfaat penting: Pertama,
sebagaimana diketahui, kecepatan lupa jauh lebih rendah untuk LTM. Beberapa
psikologi bahkan menyatakan bahwa informasi dalam LTM tidak pernah hilang
meskipun kita kehilangan kemampuan untuk memanggil kembali informasi tersebut;
dan LTM memiliki kapasitas yang tidak terbatas. Meskipun demikian, tidaklah
selalu mudah memasukkan informasi baru ke dalam LTM. Atkinson dan Shiffrin mengajukan
beberapa proses kontrol yang dapat digunakan sebagai usaha untuk mempelajari
informasi baru. Proses kontrol (control proses) adalah strategi yang digunakan
seseorang untuk memfasilitasi perolehan pengetahuan. Strategi tersebut meliputi
strategi akuisisi terhadap:
a. Pengulangan
(rehearsal) merupakan repitisi informasi baik dengan keras maupun lirih secara
terus-menerus hingga informasi tersebut berhasil dipelajari.
b. Pengodean
(coding) berusaha menempatkan informasi agar dapat diingat dalam konteks
informasi tambahan yang mudah diingat, seperti frase atau kalimat mnemonic.
c. Membuat
gambaran (imaging) meliputi menciptakan gambaran visual agar materi lebih mudah
diingat. Strategi ini merupakan trik memori lama bahkan trik ini direkomendasikan
oleh Cicero di Romawi Kuno untik mempelajari daftar yang panjang atau pidato.
Pengulangan
verbal biasanya dianggap sebagai suatu bentuk pembelajaran dengan sistem hafal
(rote learning) karena melibatkan pengulangan informasi secara terus menerus sampai
kita piker sudah berhasil mempelajarinya. Pengulangan verbal berguna ketika
materi yang dipelajari agak abstrak yang sulit dengan menggunakan strategi pengodean
atau membuat gambaran. Tugas yang didesain oleh Atkinson dan Shiffrin (1968) menuntun
pembelajaran materi yang abstrak dan tidak bermakna, sehingga mendorong subjek
untuk menggunakan pengulangan.
PERMASALAHAN:
1 Seperti
yang telah sering dialami para guru, pesan atau keterangan yang disampaikan
seorang guru dapat hilang seluruhnya dari ingatan para siswa jika pesan atau
keterangan tersebut terkategori sebagai ingatan inderawi . Bagaimana caranya
agar informasi atas keterangan seorang guru tidak akan hilang begitu saja dari
ingatan siswa?
2 2. perhatian
para siswa terhadap informasi atau masukan dari para guru akan sangat
menentukan diterima tidaknya suatu informasi yang disampaikan para guru, untuk itu
bagaimana cara menarik perhatian para siswa terhadap bahan yang disajikan?
3 3. Sebagai seorang guru, kira-kira media seperti
apa yang baik digunakan agar informasi
yang diperoleh siswa dapat masuk ke memori jangka panjang?
DAFTAR
PUSTAKA
Nahor Murani Hutapea, Pembelajaran
Matemtika Melalui Penerapan Fase-fase Balajar Gagne, tesis program strata dua,
(Surabaya: Perpustakaan Unesa, 2004), h. 14-17
Rehalat, Aminah. 2014. Model Pembelajaran Pemrosesan Informasi.
Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial, Volume 23, No. 2,
Edisi Desember. Ambon: Unpatti
Pembelajaran yang menarik dan menyenangkan menjadi salah satu alternatif bagi guru untuk meningkatkan kualitasnya dalam mendidik peserta didik. Untuk itu, guru harus mengetahui hakikat belajar dan pembelajaran yang baik. Keberhasilan proses pembelajaran sangat dipengaruhi oleh pemahaman guru terhadap hakikat tersebut.Selain dapat meningkatkan semangat belajar, pembelajaran yang menarik dan menyenangkan juga memicu seorang guru untuk lebih kreatif dan inovatif dalam menciptakan pembelajaran yang dapat menarik perhatian siswa dalam menyampaikan materi pelajaran. Disinilah tingkat kekreativan dan keterampilan mendidik siswa akan terlihat, sehingga guru harus pandai memutar otak.Harapannya, dengan terciptanya pembelajaran yang menarik dan menyenangkan, akan tercapai pembelajaran yang bermakna bagi peserta didik.
BalasHapusbaik saya akan menanggapi permasalahan no 1 yaitu Semua kita memiliki kapasitas otak yang luar biasa. Kita pada dasarnya memiliki kemampuan untuk mengingat melebihi komputer. Kekuatan ini dapat kita lihat dari orang-orang yang dapat kita katakan genius dalam bidang ingatan. Hideaki Tomoyori dari Yokohama Jepang, mengingat nilai pi hingga 40 ribu desimal dan memecahkan rekor sebelumnya yang mencapai 10 ribu desimal. Nah maka dari itu tidak ada yang tidak mungkin untuk kita bisa mengingat semua materi kimia yang diajarkan guru. Namun dalam proses mengingat banyak gangguan sehingga siswa akan kesulitan dalam mengingat materi kimia yang telah diajarkan guru, yaitu adanya gangguan – suatu rangsangan lain muncul bersamaan dengan tahap pemrosesan ingatan, jika gangguan terjadi, upaya untuk kembali menampilkan ingatan akan menjadi gagal. Misalnya anda mengingat unsur-unsur golongan A yang tidak pernah diketahui sebelumnya, ucapkan unsur tersebut beberapa kali sebelum disimpan dalam ingatan jangka pendek, kemudian mengobrol sebentar dengan seseorang. Maka kemungkinan besar anda akan sulit untuk mengingatnya kembali. Dan bisa juga siswa akan mengingat dalam jangka waktu panjang jika informasi yang diberikan guru itu penting dan menarik bagi siswa tersebut.
BalasHapusbaiklah disini saya akan menjawab pertanyaan nomor 2, cara guru untuk menarik perhatian peserta didik bisa dilakukan dengan membuat pembelajaran yang kreativ sehingga menarik bagi siswa, dapat menggunakan bantuan media misalnya saja media komputer, guru bisa mengaitkan materi belajar dengan video yang berhubungan dengan materi, atau juga bisa membuat sebuah demonstrasi sederhana atau percobaan kimia sederhana yang melibatkan siswa sebagai pendemonstran sehingga bisa menarik fokus dan perhatian siswa.
BalasHapussaya ingin menanggapi pertanyaan saudari nomor 3, dimana media yang baik untuk jangka panjang ialah dalam pemekaian multimedia kita harus menggunakan bahasa yang dimengerti oleh sanga anak dimana materi yang kita sampaikan harus kita kaitkan dengan materi sebelumnya yang memang sudah pernah ada sebelumnya, hal ini juga mampu membangkitkan ingatan anak yang tersimpan dalam long term memory. selain itu media yang kita gunakan juga harus menarik sehingga materi yang kita sampaikan bisa langsung ditangkap atau diterima oleh short term memory dan dapat diteruskan ke long term memory
BalasHapussaya akan menanggapi permasalahan no.1 untuk Meningkatkan kemampuan memori dalam pemrosesan informasi agar tidak hilang begitu saja dalam memori siswa guru dapat menyajikan materi dengan menggunakan strategi sebagai berikut:
BalasHapus1. Perhatian (attention)
Dalam pemrosesan informasi perhatian adalah syarat utama seseorang dapat memperoleh informasi. Fokuskan perhatian kepada suatu informasi yang ingin diketahui akan lebih mempermudah proses encoding sehingga pada saat perhatian gangguan-gangguan yang dapat merusak perhatian harus diminimalisir. Dalam proses pembelajaran, guru perlu menarik perhatian siswa dan menyedikan sarana prasarana belajar yang mendukung untuk meningkatkan perhatian siswa terhadap pembelajaran.
2. Pengulangan (rehearsal)
Pengulangan (rehearsal) diperlukan untuk mempertahankan informasi pada saat akan di encoding sehingga dapat tersimpan dalam memori jangka panjang.
3. Khususkan konteks atau bahan untuk mudah diingat dengan hal-hal yang lain
Informasi yang ingin diperoleh hendaknya berhubungan dengan informasi yang lain sehingga mudah cara pemanggilannya. Cara ini bisa dilakukan dengan mengajukan pertanyaan pada diri sendiri dan membuat catatan dengan baik. Mengajukan pertanyaan untuk diri sendiri setelah membaca atau memperoleh suatu informasi akan mengembangkan asosiasi dengan informasi yang berhubungan atau perlu diambil dari memori. Mencatat informasi yang diperoleh sangat berguna untuk tetap menjaga informasi itu agar tidak hilang karena berlalunya waktu.
4. Pengorganisasian informasi dengan menggunakan strategi
Beberapa strategi yang bisa dilakukan untuk bisa mengorganisasikan informasi adalah dengan mnemonic. King (2007: 441) menyatakan bahwa strategi mnemonic adalah bantuan ingatan visual dan/atau verbal. Berikut ini adalah tiga jenis cara ;
a. Metode loci, anak menyusun imaji/citra dari suatu item yang akan diingat dan membayangkan anak tersebut menyimpannya dalam lokasi yang dikenali. Misalnya jika anak harus mengingat sederetan konsep maka mereka bisa membayangkan meletakkannya di rumah rumah mereka, seperti di kamar tidur, ruang keluarga, dapur dan sebagainya. Pada saat anak perlu mengambil kembali informasi tersebut, anak bisa membayangkan rumahnya lalu membayangkan dirinya berjalan di ruang-ruang untuk mengambil konsep itu.
b. Metode kata kunci, metode ini diterapkan dengan melekatkan imaji kepada dengan kata-kata yang penting. Misalnya ketika menerangkan variabel x pada siswa, kita bisa membuat perumpamaan jika variabel x itu adalah kue atau apel.
c. Akronim, metode ini menciptakan kata dari huruf pertama item yang akan diingat
Saya mau menanggapi permasalahan no.3
BalasHapusMedia yang cocok digunakan agar informasi yang diterima siswa melekat dalam jangka waktu panjang, tentu kita menggunakan multimedia anda dapat memilih salah satu media yang benar-benar cocok sesuai dengan materi yang akan anda ajarkan. Jadi anda harus terlebih dahulu memahami materi yang anda ajarkan dan dapat mencocokan dengan suatu media sebagai alat peraga atau pun sarana anda dalam mengajar. Apabila media sudah cocok dengan bahan ajar maka, siswa akan paham dan menerim informasi yang akan diingatnya dalam jangka waktu lama.
saya menanggapi permasalahan no 3 dari saudari, diaman untuk memilih media yang perlu di perhatikan pertamakali yaitu tujuan dari proses pembelajaran itu sendiri Sehingga untuk mengatasi kesulitan belajar siswa antara lain melalui pembelajaran
BalasHapusyang efektif dengan mengelola beban kognitif intrinsik, mengurangi beban kognitif extraneous dan meningkatkan beban kognitif germane. langkah langkah working memory yang panjang perlu diperhatikan yang dimana meliputi proses pembelajaran yang harus memuat 5M, yaitu: (1) mengamati; (2) menanya; (3) mengumpulkan informasi; (4) mengasosiasi; dan (5) mengkomunikasikan
saya akan menjawab pertanyaan no 3.
BalasHapusYang palin penting harus diperhatikan adalah Memotivasi murid untuk mengingat materi dengan pemahaman, bukan hanya sekedar mengingat begitu saja. Murid akan mengingat informasi dengan lebih baik dalam jangka panjang jika mereka memahami informasi, bukan sekedar hanya mengingatnya tanpa pemahaman. Pengulangan (recall) juga akan lebih baik dalam memasukkan informasi ke memori jangka pendek, tapi jika murid perlu mengambil infrmasi dair memori jangka panjang, maka strategi pengulangan ini tidak efisien. Jadi, berikanlah mereka konsep dan ide untuk diingat dan kemudian tanyakan kepada mereka bagaimana mereka dapat mengaitkan konsep dan ide itu dengan pengalaman personal dan makna personalnya. Dan beri mereka latihan untuk mengelaborasi suatu konsep agar mereka bisa memproses informasi secara mendalam .
Saya akan menjawab permasalahan anda yang ketiga dimana cara seseorang untuk membuat memorinya menjadi jangka panjang. Multimedia untuk Saya sendiri ITU adalah dengan mengubah catatan menjadi bentuk soal-soal
BalasHapusMenanggapi permasalahan yang ketiga, cara rehersal bisa digunakan. Apa itu rehersal? Rehersal merupakan suatu pengulangan untuk penguatan memori, yang digunakan dalam pembelajaran hanya disisipkan kata2 yang umum atau pemberian perumpamaan yang sering dijumpai.
BalasHapusSaya mencoba menjawab permaslahan nomor tiga terkait pernyataan sebagai seorang guru, kira-kira media seperti apa yang baik digunakan agar informasi yang diperoleh siswa dapat masuk ke memori jangka panjang. Senarnya media pembelajaran itu digunakan oleh guru dalam mempermudah mengajar pelajaran kepada siswa. Nah agar informasi yang diperoleh siswa dapat masuk ke memori jangka panjang, maka siswa tersebut harus rajin menulang-ulang informasi yang ia dapatkan dengan cara membaca catatannya kembali.
BalasHapussaya ingin menjawab pertanyaan nomor 3, media apa yang baik digunakan agar dapat masuk kememori jangka panjang. Menurut saya semua media memiliki kelebihan masing-masing, tetapi media yang lebih lama di ingat pastinya video karena divideo terdapat gambar atau visual, audio yang dapat di ingat dengan mudah
BalasHapus