A. Pengertian
e-learning
E-learning
merupakan suatu jenis belajar mengajar yang memungkinkan tersampaikannya bahan
ajar ke siswa dengan menggunakan media internet, intranet atau media jaringan
komputer lain (Hartley, 2001). E-learning membuat pembelajaran dapat lebih
terbuka dan fleksibel. Pembelajaran dapat terjadi kapan saja, dimana saja, dan
dengan siapa saja. Salah satu media yang dikembangkan untuk menunjang
pembelajaran secara online adalah program LMS (Learning Management System).
Menurut Yasar dan Adiguzel (2010), Learning Management System (LMS) adalah
suatu pengelolaan pembelajaran yang mempunyai fungsi untuk memberikan sebuah
materi belajar, mendukung kolaborasi, menilai kinerja peserta didik, merekam
data peserta didik, dan menghasilkan laporan yang berguna untuk memaksimalkan
efektifitas dari sebuah pembelajaran. Selain materi ajar, skenario pembelajaran
perlu disiapkan dengan matang untuk mengundang keterlibatan peserta didik
secara aktif dan konstruktif dalam proses belajar mereka (Hasbullah, 2009).
B. Ciri-ciri
e-learning
E-learning
mempunyai ciri-ciri, antara lain (Clark & Mayer 2008: 10): 1) memiliki
konten yang relevan dengan tujuan pembelajaran; 2) menggunakan metode
instruksional, misalnya penyajian contoh dan latihan untuk meningkatkan
pembelajaran; 3) menggunakan elemen-elemen media seperti kata-kata dan
gambar-gambar untuk menyampaikan materi pembelajaran; 4) memungkinkan
pembelajaran langsung berpusat pada pengajar (synchronous e-learning) atau di
desain untuk pembelajaran mandiri (asynchronous e-learning); 5) membangun
pemahaman dan keterampilan yang terkait dengan tujuan pembelajaran baik secara
perseorangan atau meningkatkan kinerja pembelajaran kelompok
C. Prinsip
dalam membuat e-learning
Hujair AH. Sanaky (2009: 205) berpendapat
bahwa terdapat banyak manfaat dan dampak yang diperoleh dari pembelajaran
melalui e-learning apabila diaplikasikan di dalam lembaga pendidikan termasuk
juga di perguruan tinggi, yaitu sebagai berikut:
1. Perubahan budaya belajar dan peningkatan mutu
pembelajaran peserta didik dan dosen.
2. Perubahan pertemuan
pembelajaran yang tidak terfokus pada pertemuan (tatap muka) di kelas dan
pertemuan tidak dibatasi oleh ruang dan waktu melalui fasilitas e-learning.
3. Tersedianya materi
pembelajaran di media elektronik melalui website e-learning yang mudah diakses
dan dikembangkan oleh peserta didik dan mungkin juga masyarakat.
4. Pengayaan materi
pembelajaran sesuai dengan kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan
kemajuan teknologi.
5. Menciptakan kompetitive positioning dan
meningkatkan brand image.
6. Meningkatkan kualitas pembelajaran dan kepuasan
peserta didik serta kualitas pelayanan.
7. Interaktivitas peserta didik meningkat, karena
tidak ada batasan waktu untuk belajar.
8. Peserta didik menjadi lebih bertanggung jawab
akan kesuksesannya (learner oriented).
Beberapa
prinsip membuat situs pembelajaran atau website e-learning menurut Munir (2009:
191) antara lain:
1.
Merumuskan tujuan pembelajaran
2.
Mengenalkan materi pembelajaran
3. Memberikan bantuan dan kemudahan bagi
pembelajar untuk mempelajari materi pembelajaran; 4. Memberikan bantuan dan
kemudahan bagi pembelajar untuk mengerjakan tugas-tugas dengan perintah dan
arahan yang jelas
5. Materi pembelajaran yang disampaikan
sesuai standar yang berlaku secara umum, serta sesuai dengan tingkat
perkembangan pembelajar
6. Materi pembelajaran disampaikan
dengan sistematis dan mampu memberikan motivasi belajar, serta pada bagian
akhir setiap materi pembelajaran dibuat rangkumannya
7. Materi pembelajaran disampaikan
sesuai dengan kenyataan, sehingga mudah dipahami, diserap, dan dipraktekkan
langsung oleh pembelajar
8. Metode penjelasannya efektif, jelas,
dan mudah dipahami oleh pembelajar dengan disertai ilustrasi, contoh dan
demonstrasi
9. Sebagai alat untuk mengetahui
keberhasilan pembelajaran, maka dapat dilakukan evaluasi dan meminta umpan
balik (feedback) dari pembelajar.
D. Metode
pengembangan e-learning dalam pembelajaran kimia
Pengembangan
bahan ajar berbasis e-learning dengan materi hidrokarbon dan minyak bumi ini
didasarkan pada model pengembangan yang direkomendasikan oleh Thiagarajan
(1974), yakni 4D-Model yang terdiri dari pembatasan (define), perencanaan
(design), pengembangan (develop), dan penyebarluasan (disseminate).
Tahap
pendefinisian (define) adalah untuk menentukan dan menegaskan
kebutuhan-kebutuhan pembelajaran. Langkah-langkah yang dilakukan dalam tahap
ini adalah: (1) analisis ujung depan yang mengarah pada hasil akhir dari
pengembangan yakni berupa bahan ajar berbasis e-learning, (2) analisis siswa,
langkah ini menetapkan subyek pebelajar dan sasaran belajar siswa yaitu siswa
kelas X semester 2 dengan materi pokok senyawa hidrokarbon dan minyak bumi
dengan karakter siswa yang telah mengenal internet, dan (3) perumusan indikator
hasil belajar yang dirumuskan berdasarkan standar kompetensi dan kompetensi
dasar pada kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). Analisis siswa dibedakan
menjadi dua, yaitu: (1) analisis tugas dengan mencari literatur dan sumber
belajar tentang hidrokarbon dan minyak bumi dan (2) analisis konsep yang
dilakukan dengan mengidentifikasi konsep-konsep utama yang akan dipelajari.
Tahap
perencanaan (design) meliputi tiga langkah yaitu: (1) penyusunan tes dengan
membuat soal yang bertujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman materi dan
keberhasilan siswa dalam memahami materi dalam bahan ajar, (2) pemilihan media
untuk mendapatkan media yang tepat sesuai dengan perkembangan era teknologi
yang sedang berlangsung, yaitu media internet, dan (3) perancangan awal yang
meliputi membaca buku teks yang relevan, menulis bahan ajar, adaptasi bahan
ajar, konsultasi secara intensif dengan dosen pembimbing.
Pada
tahap pengembangan (develop) langkah- langkah yang dilakukan adalah: (1) konsultasi
dengan pembimbing yang bertujuan untuk merancang dan menyusun media dan
instrumen yang akan dipakai dalam penelitian, (2) validasi yang merupakan
kegiatan untuk mengumpulkan data tentang nilai yang diperoleh dari validator,
(3) analisis hasil validasi, hasil validasi dianalisis sesuai dengan penilaian,
saran, dan kritik dari validator, (4) revisi bahan ajar berbasis e-learning
yang bertujuan untuk menyempurnakan bahan ajar yang akan digunakan, dan (5) uji
coba terbatas, tujuan uji coba ini hanya untuk mengetahui kelayakan dari produk
pengembangan yakni bahan ajar berbasis e-learning.
Tahap
keempat yaitu penyebarluasan (disseminate) merupakan tahap penggunaan bahan
ajar yang telah dikembangkan pada skala yang lebih luas. Tahap ini bertujuan
untuk menguji efektivitas penggunaan bahan ajar berbasis e-learning hasil
pengembangan. Dalam pengembangan ini, tahap penyebarluasan (disseminate) tidak
dilakukan karena pertimbangan keterbatasan waktu, tenaga, dan biaya. Selain
itu, disesuaikan dengan tujuan pengembangan bahan ajar berbasis e-learning
yakni untuk mengetahui kelayakan bahan ajar bukan untuk mengukur prestasi
belajar siswa.
Produk
pengembangan berupa bahan ajar berbasis e-learning dengan topik hidrokarbon dan
minyak bumi. Produk yang dikembangkan berupa bahan ajar berbasis e-learning
yang terdiri atas teks, materi dalam bentuk pdf, link ke beberapa web, video
tutorial, animasi, dan assignment. Bahan
ajar berbasis e-learning ini telah direvisi berdasarkan hasil penilaian
validator ahli dan uji pada kelompok kecil. Validator ahli terdiri atas 1 dosen
Kimia Universitas Negeri Malang, 1 dosen Teknologi Pendidikan Universitas Negeri
Malang dan 1 guru kimia SMA Negeri 9 Malang. Uji kelompok kecil dilakukan pada
10 siswa SMA Negeri 9 Malang. Bahan ajar berbasis e-learning ini dilengkapi
dengan petunjuk penggunaan, desain pembelajaran, dan instrumen penilaian
terhadap ketercapaian tujuan pembelajaran. Media pembelajaran online
(e-learning) merupakan hasil pengembangan dengan menggunakan aplikasi LMS
(Learning Management System). Aplikasi LMS yang digunakan ialah Moodle dengan
alamat website e-learning.fmipa.um.ac.id. Bahan ajar yang dikembangkan termasuk
pada course Pembelajaran Kimia SMA. Judul bahan ajar adalah Hidrokarbon dan
Minyak Bumi dengan pengajar Anna Rahmaniyah. Bahan ajar berbasis e-learning
yang dikembangkan terdiri atas 7 topik yaitu Identifikasi C dan H, Kekhasan
Atom Karbon, Minyak Bumi Bagian 1-3, dan Kegunaan Hidrokarbon Bagian 1 & 2.
Pada setiap topik memiliki format yang sama, yaitu terdiri dari judul topik,
gambar pembuka, tujuan pembelajaran, kalimat penjelasan topik, langkah-langkah
pembelajaran, sumber belajar, dan fasilitas komunikasi. Berdasarkan persentase
kevalidan yang diperoleh dari validator dan uji kelompok kecil, bahan ajar
berbasis e-learning pada materi hidrokarbon dan minyak bumi yang dikembangkan
telah memenuhi kriteria valid dan layak digunakan. Revisi produk dilakukan
berdasarkan komentar dan saran yang diberikan oleh validator dan kelompok
kecil.
Keunggulan e-learning
Salah
satu keunggulan pengembangan mata kuliah berbasis online dengan Learning
Management Systems sangat mudah karena dosen tidak perlu mengetahui sedikitpun
tentang pemrograman web, sehingga lebih banyak waktu untuk memikirkan konten
(isi) pembelajaran. Dosen bisa fokus kepada upaya membelajarkan mahasiswa,
meningkatkan partisipasi, mengelola interaksi, dan mengembangkan kemampuan belajar
mandiri. Learning Management System menggunakan moodle memberikan kesempatan
kepada dosen dan mahasiswa mengikuti paradigma e-learning terpadu yang
memungkinkan kerjasama, knowledge sharing, dan kolaborasi.
Kelebihan
bahan ajar berbasis e-learning pada materi hidrokarbon dan minyak bumi ini
dibandingkan bahan ajar yang ada ialah: (1) bahan ajar ini dilengkapi dengan
petunjuk penggunaan, desain pembelajaran, dan instrumen penilaian terhadap
ketercapaian tujuan pembelajaran, (2) memudahkan terjadi interaksi antara guru,
siswa, dan bahan ajar yang merupakan komponen dari peristiwa belajar, (3)
kelengkapan fitur yang dimiliki, (4) sumber belajar dapat dimodifikasi
sewaktu-waktu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan (5)
guru dapat menilai keaktifan dan kualitas diskusi siswa berdasarkan record yang
tersimpan dalam media pembelajaran online (e-learning).
PERMASALAHAN:
1 1. Dalam
penerapan e-learning tentu saja terdapat kendala-kendala yang dihadapi, menurut
anda apa saja kendala-kenda yang sering terjadi dan bagaimana cara mengatasi
kendala tersebut?
2 2. Efektifkah
penerapan e-learning dalam pembelajaran, apa alasannya?
3. Pemanfaatan
elearning diidentifikasi akan menyebabkan perilaku penyendiri tidak mau
bersosialisasi dengan orang lain di lingkungannya. Bagaimana upaya dalam mengatasi
kemungkinan tersebut?
DAFTAR
PUSTAKA
Hanum , Numiek Sulistyo .2013. Keefektifan E-learning Sebagai Media Pembelajaran (Studi Evaluasi Model Pembelajaran E-learning SMK Telkom Sandhi Putra Purwakerto. Jurnal Pendidikan Vokasi. Vol 3, Nomor 1. UNY: Program
Studi Pendidikan Teknologi dan Kejuruan PPs UNY
Lestari, Ambar. 2013. Pengembangan E-Learning Berbasis Learning
Management System pada Mata Kuliah Media Pembelajaran. Vol. 8 No. 2.
Kendari: Dosen Jurusan Tarbiyah STAIN Sultan Qaimuddin Kendari
Rahmaniyah,Anna.http://jurnalonline.um.ac.id/data/artikel/artikelB222663265A80590716499B3118E7E43.pdf.
Malang: Universitas Negeri Malang
saya ingin menanggapi pertanyaan saudari nomor 2 dimana Efektifkah penerapan e-learning dalam pembelajaran, apa alasannya? Pembelajaran E-Learning menurut saya cukup efektif karena dengan pembelajaran berbasis E-learning maka pembelajaran akan semakin mudah, hemat waktu dan dapat menambah wawasan lebih banyak lagi. Tetapi jika e-learning tidak diimbangi dengan fasilitas dari sekolah/ dari siswa sendiri maka media ini kurang efektif seperti di sekolah tidak ada layanan internet dan siswa belum mengenal internet atau tidak memiliki laptop dan lain sebagainya
BalasHapusYa,, e learning memang efektif diterapkan karena pembelajaran akan semakin mudah tanpa tatap muka. Hanya saja yang menjadi kendala disini salah satunya adalah masalah jaringan yang kadang tidak stabil sehingga menyebabjan siswa kelabakan misalkan saja pada saat mengerjakan kuis tiba tiba jaringannya hilang, otomatis disini siswalah yang dirugikan.
HapusSaya mau menanggapi permasalah no.2
BalasHapusKita tahu, pembelajaran e-learning sangat cocok diterapkan diperguruan tinggi,karena dilihat secara umum di indonesia alat elektronik dan akses jaringan sudah cukup memadai. Dengan adanya penerapan model pembelajaran e-learning maka hal ini akan memacu kemandirian mahasiswa dalam mencari informasi untuk dirinya sendiri dan jaringan informasi yang diperoleh jauh lebih luas dibandingakan yang diperoleh dari dosen. Hal ini cukup efektif untuk mengikuti era digital sekarang ini yang mana banyak pembelajaran yang sudah ada sentuhan medianya.
Kalau kita kaji dari segi ini memang efektif digunakan, tetapi untuk sekolah yang keberadaanya masih sangat jauh dari koneksi internet maka ini tidak efektif diterapkan. Jadi dapat disimpulkan penerapannya kalau untuk seluruh indonesia itu belum efektif.
HapusMenanggapi permasalahan no.1, terkait salah satu kendala dlm penerapan e-learning yaitu blm siapnya SDM yg dimiliki terutama dalam penggunaan TIK. Sehingga solusinya pengajar/guru diharapkan dapat mengarahkan siswa untuk memanfaatkan kemajuan TIK dalam hal positif yaitu meningkatkan wawasan dan ilmu pengetahuan. Guru perlu memberikan bimbingan kepada siswa terkait etika dalam pemanfaatan TIK untuk menghindari berbagai dampak negatif TIK.
BalasHapusIya tanggapan anda benar salah satunya mengenai SDM. Bisa juga kendala dari gurunya yang belum bisa memanfaatkan internet, jadi dalam megatasinya bisa dilakukan seperti penataran atau pelatihan kompetensi guru.
HapusBaik saya akan menjawab permasalahan no 2
BalasHapusDimana pembelajaran e-learning ini sangat efektif, karna siswa bisa belajar mandiri tanpa ketergantungan dengan guru dan dapat menemukan hal-hal yang baru. Beberapa alasan kenapa pembelajaran e-learning efektik digunakan yaitu:
1. Murah – Dengan bermodalkan paket data internet saja siswa atau siswi dapat mengakses materi pembelajaran yang mereka inginkan tanpa harus khawatir ketinggalan pelajaran apabila tidak hadir.
2. Hemat – Hemat disini bermaksudkan bahwa siswa atau siswi tidak usah membeli buku materi pembelajaran lagi karena semua materi sudah dapat dicari dengan mudah di internet. 3. Tingkat pemahaman yang lebih baik – Terkadang faktor penghambat dari kegiatan pembelajaran adalah cara penyampaian materi seorang pengajar yang cukup susah dipahami. Melalui e-learning siswa dan siswi bisa mencari konten materi yang memiliki penyampaian yang mudah dipahami seperti melalui video dan gambar.
3. Wawasan tidak terbatas – Dengan melakukan e-Learning siswa dan siswi akan selalu menemukan hal yang semula mereka tidak ketahui. Tidak seperti jika pembelajaran melalui tatap muka saja atau hanya dengan membaca buku. Siswa dan siswi akan mendapat wawasan yang lebih luas dan tidak terbatas. 5. Mandiri – Berbeda dengan pembelajaran tatap muka, melalui e-Learning siswa dan siswi berguru ke internet tanpa adanya campur tangan dari guru lagi. Sehingga siswa dan siswi dapat terbiasa mencari materi yang ia tahu tanpa harus selalu bertanya kepada guru yang ada dikelas.
Dilihat dari segi metodenya memang pelaksanaan e-learning ini baik adanya. Baik untuk dosen baik juga untuk mahasiswa. Karena seperti yang telah disebutkan diatas tadi, dengan adanya e-learning mahasiswa bisa lebih banyak bertanya tentang materi yang masih belum dipahami tanpa rasa malu atau takut untuk mengungkapkannya. Disamping itu juga bisa mengakomodir perkuliahan agar tetap berjalan dengan lancar dan sesuai dengan waktu yang telah disediakan.
HapusNamun disamping itu penerapan e-learning sebenarnya juga ada sisi negatifnya. Yang paling menderita dari adanya e-learning ini tentu bagi mahasiswa-mahasiswa yang miskin atau kurang mampu. Masalah yang amat mendasar adalah masalah kualitas jaringan. Contoh, Ketika sedang mengikuti kuis, Kuis tersebut hanya bisa diakses dalam satu kali saja. Jika ada masalah jaringan, mati lampu, dan sebagainya itu bukan tanggung jawabnya. Jika sewaktu-waktu kuis hanya bisa terjawab setengah dari jumlah soal lalu listrik padam. Maka data yang masuk ya hanya segitu. Setelah listrik kembali hidup, kuis tidak bisa dibuka lagi untuk dilanjutkan menjawab pertanyaan. Lalu siapa yang akan sangat dirugikan? Tentu mahasiswa yang menanggungnya. Jadi , jika dilihat dari segi ini masih kurang efektif menurut saya. Untuk lebih efektif maka harus dicari solusinya dulu.
Saya menerima tanggapan saudari-saudari dengan permasalahan no 2 dimana pembelajaran e-learning ini efektif digunakan. Dilihat dari segi metodenya memang pelaksanaan e-learning ini baik adanya. Baik untuk dosen baik juga untuk mahasiswa. Karena seperti yang telah disebutkan diatas tadi, dengan adanya e-learning mahasiswa bisa lebih banyak bertanya tentang materi yang masih belum dipahami tanpa rasa malu atau takut untuk mengungkapkannya. Disamping itu juga bisa mengakomodir perkuliahan agar tetap berjalan dengan lancar dan sesuai dengan waktu yang telah disediakan. Jika sewaktu-waktu dosen berhalangan hadir karena berbagai alasan, perkuliahan bisa dilanjutkan dengan kuliah online, e-learning. Jadi kuliah tidak harus selalu di kelas tapi bisa memanfaatkan teknologi.
BalasHapusNamun disamping itu penerapan e-learning sebenarnya juga ada sisi negatifnya. Yang paling menderita dari adanya e-learning ini tentu bagi mahasiswa-mahasiswa yang miskin atau kurang mampu. Masalah yang amat mendasar adalah masalah kualitas jaringan. Contoh, Ketika sedang mengikuti kuis, Kuis tersebut hanya bisa diakses dalam satu kali saja. Jika ada masalah jaringan, mati lampu, dan sebagainya itu bukan tanggung jawabnya. Jika sewaktu-waktu kuis hanya bisa terjawab setengah dari jumlah soal lalu listrik padam. Maka data yang masuk ya hanya segitu. Setelah listrik kembali hidup, kuis tidak bisa dibuka lagi untuk dilanjutkan menjawab pertanyaan. Lalu siapa yang akan sangat dirugikan? Tentu mahasiswa yang menanggungnya. Jadi , jika dilihat dari segi ini masih kurang efektif menurut saya. Untuk lebih efektif maka harus dicari solusinya dulu.
baiklah saya akan menambahkan sedikit permasalahan no 2, yaitu Menurut saya pelaksanaannya belum berjalan baik.seperti yang banyak dilakukan di perguruan tinggi. Dilihat dari segi metodenya memang pelaksanaan e-learning ini baik adanya. Baik untuk dosen baik juga untuk mahasiswa. dengan adanya e-learning mahasiswa bisa lebih banyak bertanya tentang materi yang masih belum dipahami tanpa rasa malu atau takut untuk mengungkapkannya.
BalasHapusDisamping itu juga bisa mengakomodir perkuliahan agar tetap berjalan dengan lancar dan sesuai dengan waktu yang telah disediakan. Jika sewaktu-waktu dosen berhalangan hadir karena berbagai alasan, perkuliahan bisa dilanjutkan dengan kuliah online, e-learning. Jadi kuliah tidak harus selalu di kelas tapi bisa memanfaatkan teknologi. Selain itu juga pasti banyak mahasiswa yang mendukung metode ini. karena tidak repot-repot ke kampus namun cukup menghidupakan PC atau laptop dan menyambungkan koneksi menggunakan modem atau fasilitas wi-fi jika tersedia. Bagi yang belum punya laptop bisa pergi ke warnet sebentar.
Baiklah saya akan mencoba menjawab permasalahan no 1
BalasHapusProses pembelajaran secara E-Learning haruslah merata pada semua wilayah, termasuk pada daerah terpencil. Minimnya akses informasi dan lingkungan bisa menjadi kendala bagi pemerataan E-Learning di daerah terpencil. Banyak permasalahan yang mengakibatkan E-Learning sulit untuk menjangkau ke wilayah terpencil, antara lain:
1. Sulitnya akses jalan menuju sekolah. Akses jalan menuju sekolah di beberapa daerah terpencil yang sulit untuk dijangkau karena medan yang berat. Efektivitas E-Learning di sekolah terpencil menjadi sulit untuk diwujudkan.
2. Jaringan Listrik yang belum memadai. Banyak daerah terpencil yang belum dialiri listrik mengakibatkan E-Learning susah untuk dilakukan, karena proses pembelajaran E-Learning harus menggunakan listrik.
3. SDM yang belum mengerti pemakaian E-Learning. Para pengajar didaerah terpencil banyak yang belum paham dalam pemakaian perangkat elektronik yang menunjang E-Learning. Hal ini mungkin saja dikarenakan kurangnya akses informasi dan pelatihan yang diberikan.
Untuk mengatasi permasalahan ini, pemerintah telah meluncurkan akses intenet kecamatan yang tersebar di bebrbagai wilayah terpencil, tujuannya ialah akses internet dapat digunakan oleh masyakarat. Walaupun program ini belum terlalu efektif menjangkau masyakarat tertentu, akan tetapi minat masyarakat dalam memperoleh informasi sangat tinggi.
Baiklah, saya ingin menangggapi permasalahan anda yang kedua. Menurut pendapat saya e-learning efektif diterapkan dalam pembelajaran apabila memenuhi syarat-syarat berjalannya proses e-learning yakni, adanya jaringan internet, pengetahuan siswa tentang teknologi dan cukupnya kemampuan guru dalam menggunakan multimedia berbasis internet.
BalasHapussaya akan menjawab pertanyaan no 2.
BalasHapusE-Learning dapat menjadi efektif apabila adanya kerjasama antara pengajar dan siswanya untuk mensukseskannya, tanpa salah satu dari keduanya keberadaan E-Learning tidak akan berjalan secara lancar. Untuk itulah diperlukan komunikasi yang erat antar keduanya. Selain dari itu, efektivitas E-Learning juga didukung oleh keahlian dan kreativitas pengajar dalam meracik materi yang akan disampaikan. Hal ini juga termasuk pada keahlian pengajar dalam mengoperasikan perangkat elektronik.
Terkadang E-Learning juga menjadi beban bagi para pengajar yang belum menguasai operasional perangkat elektronik. Untuk mengatasi permasalahan ini, Dinas Pendidikan terkait banyak melakukan pelatihan bagi guru-guru yang belum menguasai operasional perangkat elektronik, terlebih untuk daerah terpencil.
Saya akan menjawab permasalahan Anda yang ketiga dimana cara menanggulanginya dengan memberikan tugas kelompok kepadanya yang lebih baik dI serahkan bukti pengerJaan dengan video
BalasHapusSaya sependapat dengan pendapat desi dengan pembentukan kelompok yang tugasnya dipresentasikan di depan kelas sehingga setiap kelompok berpikir bagaimana mengolah multimedia presentasi yg telat dan bagus untuk disajikan dan mereka menjadi lebih bekerjasama dalam pembagian tugasnya.
Hapus